Kami menikmati film action malam itu, sampai-sampai adikku Vino Sudah
tertidur di bangku sofa, mama mengangkatnya ke dalam kamar Vino. Karna melihat
adik yang sudah di antar ke kamar, aku masuk ke kamar juga. Lagian malam sudah
mulai larut.
Kring... kring.... kring... (Suara Alarm)
Alarmku pun berbunyi menandakan bahwa mentari sudah mulai kelihatan. Aku
bergagas untuk merapikan tempat tidurku yang sedikit berantakan. Kemudia
mengambil handuk menuju kamar mandi. Setelah selesai semua aku menuju meja
makan dimana ada sehelai roti yang aku bawa ke dalam mobil untuk dimakan. Aku
berangkat ke kampus seperti biasa di antar oleh pak supir. Setibanya ke kampus
aku langsung menuju kelasku. Belum tiba di kelas, Rina sudah memanggilku dari
arah perpustakaan.
"Dila, dila... sini." mengajakku masuk ke ruang perpustakaan.
"Kenapa Rin??!!" seruku karna penasaran. "Kamu dah siap tugas
Manajemen??", "hahhha. kamu mau nyontek yah" tawaku ingin
mengejek Rina. "issshh, jangan keras-keras dong, malu kalau di dengar
orang" jawabnya dengan sedikit kesal. "yauda, nah.. jangan di salin
semua yah, pakai bahasa sendiri juga", "oke" jawabnya dengan
simpel. Waktu masih ada setengah jam lagi untuk Rina mengerjakan tugas yang ia
salin dari tugasku. Sembari menunggunya mengerjakan tugas, aku mencari buku di
rak-rak untuk dibaca. Karna sayang waktu akan sia-sai bila hanya di habiskan
dengan percuma dan tidak ada arti. Setidaknya bisa baca sepuluh atau duapuluh
halamankan sudah lumayan. Masih lima menit berlalu, Ricard masuk ke dalam ruang
perpustakaan, dan aku menyapanya ketika dia melihatku. "heiii"
sahutku kepadanya, dia juga membalas sapa yang sama. "Kamu tiap hari
meliha buku tidak bosan yah" seruku pada Ricard. "Nggak dong, aku
boleh gabung" katanya, "tentu.
Diapun duduk disebelahku sambil cerita mengenai buku. Rina yang asyik
menyalin tugasku tidak memperhatikan kami berdua, cuman dia sempat aku lihat
menoleh ke arah Ricard sebentar. "Rin, dah sampai mana??!!" ,
"bentar lagi kok dil". Kemudian aku mengajak Ricard untuk ngobrol
soal kecintaannya kepada buku. Ternyata dia hanya suka membaca buku puisi saja.
Pantas Ricard pandai merangkai puisi yang begitu indah, pengetahuannya tentang
kata-kata yang bagus pasti sudah memenuhi otaknya. Tapi aku bingung, mengapa
dia harus bekerja di toko buku itu. Ingin aku tanyakan tapi aku takut
pertanyaan itu terlalu mengurusi pribadinya. Padahal ingin tahu lebih dalam
tentangnya pria tampan yang jago membuat syair yang elok.
"Dil, kamu nanti siang ke toko buku lagi?" Tanya Ricard kepadaku,
"hmmm,, kayaknya hari ini enggak deh.", " ohh, gitu yah".
"yauda dil, aku tinggal dulu yah, soalnya aku mau cari buku untuk mata
kuliah hari ini", "oh yauda".
Aku melihat dia memilah-milah buku yang ia cari. Entah mengapa aku sangat
nyaman memandangnya, terasa dia memang betul-betul adalah bintang yang
bercahaya bila ada bulan. Dia sangat Romantis, tapi mengapa dia tidak membahas
soal chat yang tadi malam yah, atau karna aku hanya Read chatnya saja. Mungkin
dia lupa.
"Dil, ayok ke kelas" ucap wanita yang sedang bersamaku yaitu
Rina. "ohh. iyah ayoklah".
Rasanya aku ingin berlama-lama memandang Ricard di ruang perpus itu, tapi
aku harus benar-benar masuk kelas, karna mata kuliah sedikit lagi akan dimulai.
Kami pun bergegas meninggalkan perputakaan yang hanya ada beberapa orang saja
didalamnya. Aku tidak sempat melihat Ricard. Kami memulai mata kuliah hari ini
sampai jam pulang. Sangat lelah karna jam kuliah yang benar-benar padat satu
harian penuh. Waktu aku tiba dirumah aku langsung tertidur pulas sampai petang.
Kemudian aku Mandi dan menukar baju lalu makan malam. Karna jarum jam
menunjukan masih pukul setengah delapan, aku terpikirkan soal pertanyaan Ricard
mengenai aku ke toko buku hari ini tau tidak. Aku berpikir mungkin ada sesuatu
yang mau ia katakan. Lalu aku memutuskan untuk pergi sendirian.
"Ricard, kamu masih kerja" ucapku, "Ia Dil, aku selesai
sampai jam sebelas malam nanti". Sontak aku agak bingung dan salut,
bingung karna kapan dia ada waktu untuk mengerjakan tugas bila dia tiap hari
harus bekerja. Lalu salut karna dia pria yang mandiri. Karna kondisi toko yang
lumayan sepi, Ricard punya banyak waktu untuk ngobrol denganku.
"Dil, tadi kamu bilang tidak kemari", "ia itukan kamu
nanyaknya siang, aku kan datangnya malam". "hahaha, kamu bisa aja ngeles.
Kamipun berbincang-bincang mengenai toko buku tempat ia kerja, tentang mengapa
ia suka berpuisi dan mengapa ia harus kerja. Mendengar ceritanya hatiku
bercampur aduk, ada sedih, haru dan termotivasi. Ternyata dia balik
ketampanannya yang suka senyum, Ricard menanggung banyak beban dalam hidupnya.
EPISODE SEBELUMNYA EPISODE SELANJUTNYA
EPISODE SEBELUMNYA EPISODE SELANJUTNYA
Bagikan
Bintang di Bulan Agustus Chapter 7
4/
5
Oleh
Frendi Nduru

