Rabu, 01 Agustus 2018

Bintang di Bulan Agustus Chapter 7



Kami menikmati film action malam itu, sampai-sampai adikku Vino Sudah tertidur di bangku sofa, mama mengangkatnya ke dalam kamar Vino. Karna melihat adik yang sudah di antar ke kamar, aku masuk ke kamar juga. Lagian malam sudah mulai larut.

Kring... kring.... kring... (Suara Alarm)
Alarmku pun berbunyi menandakan bahwa mentari sudah mulai kelihatan. Aku bergagas untuk merapikan tempat tidurku yang sedikit berantakan. Kemudia mengambil handuk menuju kamar mandi. Setelah selesai semua aku menuju meja makan dimana ada sehelai roti yang aku bawa ke dalam mobil untuk dimakan. Aku berangkat ke kampus seperti biasa di antar oleh pak supir. Setibanya ke kampus aku langsung menuju kelasku. Belum tiba di kelas, Rina sudah memanggilku dari arah perpustakaan.
"Dila, dila... sini." mengajakku masuk ke ruang perpustakaan. "Kenapa Rin??!!" seruku karna penasaran. "Kamu dah siap tugas Manajemen??", "hahhha. kamu mau nyontek yah" tawaku ingin mengejek Rina. "issshh, jangan keras-keras dong, malu kalau di dengar orang" jawabnya dengan sedikit kesal. "yauda, nah.. jangan di salin semua yah, pakai bahasa sendiri juga", "oke" jawabnya dengan simpel. Waktu masih ada setengah jam lagi untuk Rina mengerjakan tugas yang ia salin dari tugasku. Sembari menunggunya mengerjakan tugas, aku mencari buku di rak-rak untuk dibaca. Karna sayang waktu akan sia-sai bila hanya di habiskan dengan percuma dan tidak ada arti. Setidaknya bisa baca sepuluh atau duapuluh halamankan sudah lumayan. Masih lima menit berlalu, Ricard masuk ke dalam ruang perpustakaan, dan aku menyapanya ketika dia melihatku. "heiii" sahutku kepadanya, dia juga membalas sapa yang sama. "Kamu tiap hari meliha buku tidak bosan yah" seruku pada Ricard. "Nggak dong, aku boleh gabung" katanya, "tentu.
Diapun duduk disebelahku sambil cerita mengenai buku. Rina yang asyik menyalin tugasku tidak memperhatikan kami berdua, cuman dia sempat aku lihat menoleh ke arah Ricard sebentar. "Rin, dah sampai mana??!!" , "bentar lagi kok dil". Kemudian aku mengajak Ricard untuk ngobrol soal kecintaannya kepada buku. Ternyata dia hanya suka membaca buku puisi saja. Pantas Ricard pandai merangkai puisi yang begitu indah, pengetahuannya tentang kata-kata yang bagus pasti sudah memenuhi otaknya. Tapi aku bingung, mengapa dia harus bekerja di toko buku itu. Ingin aku tanyakan tapi aku takut pertanyaan itu terlalu mengurusi pribadinya. Padahal ingin tahu lebih dalam tentangnya pria tampan yang jago membuat syair yang elok.
"Dil, kamu nanti siang ke toko buku lagi?" Tanya Ricard kepadaku, "hmmm,, kayaknya hari ini enggak deh.", " ohh, gitu yah". "yauda dil, aku tinggal dulu yah, soalnya aku mau cari buku untuk mata kuliah hari ini", "oh yauda".
Aku melihat dia memilah-milah buku yang ia cari. Entah mengapa aku sangat nyaman memandangnya, terasa dia memang betul-betul adalah bintang yang bercahaya bila ada bulan. Dia sangat Romantis, tapi mengapa dia tidak membahas soal chat yang tadi malam yah, atau karna aku hanya Read chatnya saja. Mungkin dia lupa.

"Dil, ayok ke kelas" ucap wanita yang sedang bersamaku yaitu Rina. "ohh. iyah ayoklah".
Rasanya aku ingin berlama-lama memandang Ricard di ruang perpus itu, tapi aku harus benar-benar masuk kelas, karna mata kuliah sedikit lagi akan dimulai. Kami pun bergegas meninggalkan perputakaan yang hanya ada beberapa orang saja didalamnya. Aku tidak sempat melihat Ricard. Kami memulai mata kuliah hari ini sampai jam pulang. Sangat lelah karna jam kuliah yang benar-benar padat satu harian penuh. Waktu aku tiba dirumah aku langsung tertidur pulas sampai petang. Kemudian aku Mandi dan menukar baju lalu makan malam. Karna jarum jam menunjukan masih pukul setengah delapan, aku terpikirkan soal pertanyaan Ricard mengenai aku ke toko buku hari ini tau tidak. Aku berpikir mungkin ada sesuatu yang mau ia katakan. Lalu aku memutuskan untuk pergi sendirian.
"Ricard, kamu masih kerja" ucapku, "Ia Dil, aku selesai sampai jam sebelas malam nanti". Sontak aku agak bingung dan salut, bingung karna kapan dia ada waktu untuk mengerjakan tugas bila dia tiap hari harus bekerja. Lalu salut karna dia pria yang mandiri. Karna kondisi toko yang lumayan sepi, Ricard punya banyak waktu untuk ngobrol denganku.

"Dil, tadi kamu bilang tidak kemari", "ia itukan kamu nanyaknya siang, aku kan datangnya malam". "hahaha, kamu bisa aja ngeles. Kamipun berbincang-bincang mengenai toko buku tempat ia kerja, tentang mengapa ia suka berpuisi dan mengapa ia harus kerja. Mendengar ceritanya hatiku bercampur aduk, ada sedih, haru dan termotivasi. Ternyata dia balik ketampanannya yang suka senyum, Ricard menanggung banyak beban dalam hidupnya. 


EPISODE SEBELUMNYA                                                                            EPISODE SELANJUTNYA

Bagikan

Jangan lewatkan

Bintang di Bulan Agustus Chapter 7
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.