Rabu, 01 Agustus 2018

Bintang di Bulan Agustus Chapter 5



Itulah beberapa penggalan puisi yang dia buat. Kalau dipikir-pikir puisinya sangat sedih, karna bulan meninggalkan bintang. Kalau di pikir-pikir lagi, siapa sebenarnya bintang yang membutuhkan cahaya dari bulan tersebut??!!

Selesai aku membaca puisinya, mendengar suara mama yang menyuruhku untuk makan. Akupun langsung bergegas menuju meja makan. Sarapan saat itu terasa nikmat, padahal masakah sederhana yang seperti biasanya. Tapi menurutku, masakan itu memang begitu nikmat, sampai-sampai aku tambah dua porsi. Padahal aku terkenal sebagai orang yang sulit makan dirumah. Tapi entalah, aku merasa seperti belum makan satu bulan. Makanpun sudah selesai aku lanjut membaca buku dikamar. Aku selalu kepikiran dengan wajah senyum si pria penggoda itu saat memandangku. Aku seperti terhipnotis pada saat itu dan sampai detik ini.
Puisi yang dia buat tadi pagi di kampus dan yang tadi siang di toko buku aku simpan baik-baik di buku diaryku. Aku juga menyalin puisinya biar sewaktu-waktu lembaran-lembaran puisi itu hilang, puisinya tidak akan ikut hilang karna sudah tertulis rapi di buku diaryku. Akupun tertidur pulas saat itu. Karna badan yang sudah capek dan letih seharian ada kegiatan dan tak sempat tidur siang. Aku tertidur benar-benar lelap dan seperti dan ada beban sama sekali.

Seminggu telah berlalu di bulan agustus, aku memutuskan untuk pergi ke toko buku. Karna beberapa hari belakangan ini, aku tak pernah melihat Ricard di kampus. Setibanya di toko buku, aku masih belum melihat Ricard. Baik itu didepan pintu gudang buku maupun di meja kasir. Lagian siang itu memang benar-benar padat. Dari pada aku bingung aku langsung tanyakan kepada salah satu karyawan yang ada di kasir tentang keberadaan Ricard.
"Mbak..." seruku..
"Yah .. ada yang bisa saya bantu"... ucap kasir tersebut dengan sopan nan lembut.
"Karyawan yang namanya Ricard tidak bekerja yah Mbak?..."
"cie nyariin aku yah Mbak" Kata Ricard sembari menurunkan tas nya untuk dimasukan ke lobi kerjanya.
Si mbak itu hanya bisa tersenyum melihat aku yang begitu malu. Untuk menutupi rasa maluku pada saat aku pura-pura emosi didepan Ricard dan si Mbak kasir.
"Ricard, apasih.. aku mau nanya hal penting samamu..." Ucapku dengan tegas. Wajah Ricard yang tadinya tertawa nyaris berubah menjadi wajah tegang karna melihat wajahku yang sudah tidak bersahabat. Padahal aku hanya berpura-pura. Lalu aku menarik tangan Ricard yang sudah mulai medekatiku karna melihat aku marah. Aku membawanya ke teras toko buku.
"Ada apa sih Dil" tanya Ricard yang merasa bersalah.
"nggak apa-apa kok,, hehehhe" jawabku dengan canda.
"Yaampun, aku kirain kamu benaran marah samaku" Ucapnya dengan penuh sesal
"Enggak kok, aku hanya malu aja tadi, karna kamu tiba-tiba nongol saat ku tanya ...." Setelah aku mengatakan itu, Ricard memotong pembicaraanku.
"ohh. kamu kenapa nyariin aku." sahut dia.
"AKu mau nanyak tentang puisimu yang bulan dan bintang itu"
"Emangnya kenapa, ada yang salah?"
"nggak aku hanya mau nanyak, Kalau memang aku bulan yang ada di puisimu itu, bintangnya siapa Card?" Tegasku kepadanya.


Tidak hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab pertanyaanku. Dia malam mengatakan kalau dia harus kembali untuk bekerja. Aku sangat kesal karna dia tidak merespon pertanyaanku. AKu betul-betul penasaran siapa bintang yang dimaksudnya itu. Apakah dia tau tentang hubunganku dengan ketua BEM yang setahun lalu. Ada banyak pertanyaan yang terlintas di otakku mengenai bintang yang ia maksud di dalam puisi itu. Apakah bintang itu memang lagi betul-betul kesepian dan bulan tidak pernah mengerti persaan si bintang yang sebenarnya.

EPISODE SEBELUMNYA                                                                            EPISODE SELANJUTNYA

Bagikan

Jangan lewatkan

Bintang di Bulan Agustus Chapter 5
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.