Itulah beberapa penggalan puisi yang dia buat. Kalau dipikir-pikir puisinya
sangat sedih, karna bulan meninggalkan bintang. Kalau di pikir-pikir lagi,
siapa sebenarnya bintang yang membutuhkan cahaya dari bulan tersebut??!!
Selesai aku membaca puisinya, mendengar suara mama yang menyuruhku untuk
makan. Akupun langsung bergegas menuju meja makan. Sarapan saat itu terasa
nikmat, padahal masakah sederhana yang seperti biasanya. Tapi menurutku,
masakan itu memang begitu nikmat, sampai-sampai aku tambah dua porsi. Padahal
aku terkenal sebagai orang yang sulit makan dirumah. Tapi entalah, aku merasa
seperti belum makan satu bulan. Makanpun sudah selesai aku lanjut membaca buku
dikamar. Aku selalu kepikiran dengan wajah senyum si pria penggoda itu saat
memandangku. Aku seperti terhipnotis pada saat itu dan sampai detik ini.
Puisi yang dia buat tadi pagi di kampus dan yang tadi siang di toko buku
aku simpan baik-baik di buku diaryku. Aku juga menyalin puisinya biar
sewaktu-waktu lembaran-lembaran puisi itu hilang, puisinya tidak akan ikut
hilang karna sudah tertulis rapi di buku diaryku. Akupun tertidur pulas saat
itu. Karna badan yang sudah capek dan letih seharian ada kegiatan dan tak
sempat tidur siang. Aku tertidur benar-benar lelap dan seperti dan ada beban
sama sekali.
Seminggu telah berlalu di bulan agustus, aku memutuskan untuk pergi ke toko
buku. Karna beberapa hari belakangan ini, aku tak pernah melihat Ricard di
kampus. Setibanya di toko buku, aku masih belum melihat Ricard. Baik itu
didepan pintu gudang buku maupun di meja kasir. Lagian siang itu memang
benar-benar padat. Dari pada aku bingung aku langsung tanyakan kepada salah
satu karyawan yang ada di kasir tentang keberadaan Ricard.
"Mbak..." seruku..
"Yah .. ada yang bisa saya bantu"... ucap kasir tersebut dengan
sopan nan lembut.
"Karyawan yang namanya Ricard tidak bekerja yah Mbak?..."
"cie nyariin aku yah Mbak" Kata Ricard sembari menurunkan tas nya
untuk dimasukan ke lobi kerjanya.
Si mbak itu hanya bisa tersenyum melihat aku yang begitu malu. Untuk
menutupi rasa maluku pada saat aku pura-pura emosi didepan Ricard dan si Mbak
kasir.
"Ricard, apasih.. aku mau nanya hal penting samamu..." Ucapku
dengan tegas. Wajah Ricard yang tadinya tertawa nyaris berubah menjadi wajah
tegang karna melihat wajahku yang sudah tidak bersahabat. Padahal aku hanya
berpura-pura. Lalu aku menarik tangan Ricard yang sudah mulai medekatiku karna
melihat aku marah. Aku membawanya ke teras toko buku.
"Ada apa sih Dil" tanya Ricard yang merasa bersalah.
"nggak apa-apa kok,, hehehhe" jawabku dengan canda.
"Yaampun, aku kirain kamu benaran marah samaku" Ucapnya dengan
penuh sesal
"Enggak kok, aku hanya malu aja tadi, karna kamu tiba-tiba nongol saat
ku tanya ...." Setelah aku mengatakan itu, Ricard memotong pembicaraanku.
"ohh. kamu kenapa nyariin aku." sahut dia.
"AKu mau nanyak tentang puisimu yang bulan dan bintang itu"
"Emangnya kenapa, ada yang salah?"
"nggak aku hanya mau nanyak, Kalau memang aku bulan yang ada di
puisimu itu, bintangnya siapa Card?" Tegasku kepadanya.
Tidak hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab pertanyaanku. Dia malam
mengatakan kalau dia harus kembali untuk bekerja. Aku sangat kesal karna dia
tidak merespon pertanyaanku. AKu betul-betul penasaran siapa bintang yang
dimaksudnya itu. Apakah dia tau tentang hubunganku dengan ketua BEM yang
setahun lalu. Ada banyak pertanyaan yang terlintas di otakku mengenai bintang
yang ia maksud di dalam puisi itu. Apakah bintang itu memang lagi betul-betul
kesepian dan bulan tidak pernah mengerti persaan si bintang yang sebenarnya.
Bagikan
Bintang di Bulan Agustus Chapter 5
4/
5
Oleh
Frendi Nduru

