Apakah bintang itu memang lagi betul-betul kesepian dan bulan tidak pernah
mengerti persaan si bintang yang sebenarnya.
Karna aku sedikit kesal kepada Ricard yang tidak sempat mejawab
pertanyaanku, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Namun rasa kekesalanku
padanya tidak bertahan lama, karna aku juga harus mengerti, bahwa tadi itu dia
baru aja sampai di tempat kerja. Tidak seharusnya aku memperlakukannya begitu.
Setibanya dirumah, seperti biasa aku langsung masuk ke dalam kamar, mengambil
buku untuk mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan minggu depan. Aku memang
rajin mengerjakan tugas kampus, karna aku tidak mau merasa terbebani disaat
tugas-tugasku menumpuk. Jadi, apa salahnya aku memanfaatkan waktu luangku untuk
mengerjakan tugas tersebut. Selesai mengerjakan tugas, aku mengisi buku diaryku
tentang perjalanan hari ini. Dimana hari ini tidak ada kesan yang membuatku
bahagia. Padahal sebenarnya aku berharap diberikan puisi oleh pria penggoda itu
di toko buku tadi. Aku merasa terlalu berharap dan kebanyakan menghayal.
Pemikiranku saat itu memang betul-betul buyar dan sedikit pusing. Dan akhirnya
aku tertidur siang itu di tempat tidur.
Setalah aku bangun kira-kira pukul empat sore aku mandi untuk mendinginkan
pikiranku dan menyegarkan semua tubuhku alias biar wangi. Setelah mandi aku
melihat ada chat kontak dari nomor baru. Dan chat itu adalah sepenggalan puisi
yang isinya.
Bintang itu adalah aku
yang menantikan bulan
kembali menyinari hidupku
Kemudian aku melihat foto profil si pengirim, ternyata hanya gambar
bintang. Lalu aku mulai mengerti dan tahu apa maksud dan tujuan dari chat
barusan. Itu adalah jawaban dari pertanyaanku kepada si pria penggoda tadi
siang.
"waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" Teriakku
yang spontan dan keras membuat ibuku terdengar.
"Dila kamu kenapa" ucap
ibuku yang sedikit panik dari luar kamarku. "tidak apa-apa kok mah, hanya
nonton film aja tadi" sahutku. "oh yasudah kalau tidak apa-apa"
mamapun pergi meninggalkan kamarku.
Aku benar-benar bahagia saat itu, tapi tidak tahu kenapa. Yang jelas chat itu
seperti menghilangkan semua masalah yang ada di benakku selama beberapa hari
ini. Sontak wajahku yang agak sedikit murung saat itu langsung ceria kembali,
buku diary yang sudah aku tulis tadi berending kebahagiaan. Lalu aku keluar
dari pintu kamar karna ini sudah
benar-benar jam makan malam. Aku menuju meja makan yang dimana hanya aku dan
adikku Vino yang sudah duduk. Ayahku masih belum pulang kerja, sedangkan ibu
baru selesai mandi.
"Ma..." teriakku dari meja makan
"Iyah, makan deluan saja Dil," sahut mamaku dari dalam kamar.
Akupun makan bersama adikku di meja yang sama. Setelah selesai makan, kami
nonton di ruang tamu bersama. Dan ditengah film sedang mulai, akhirnya ayah
pulang kerja. Ayah langsung pergi ke kamar tanpa melihat kami yang sedang duduk
diruang tamu. Hanya ibu yang berbicara dengan ayah saat itu, karna ibu yang
menjemput ayah di depan pintu. Aku ngerti situasi seperti itu, pasti ayah sudah
sangat kelelahan. Tapi Apakah adikku Vino mengerti itu, dia pasti sangat
membutuhkan kasih sayang dari ayah. Apalagi jiwa Vino yang masih remaja yang
tergolong masih labil, aku sedikit takut bila kurangnya kasing sayang kedua
orang tua dapat menjerumuskan Vino ke hal-hal yang negatif. Tapi aku yakin
adikku tidak seperti itu, toh masih ada mama yang selalu perhatian dengan aku dan
Vino. Kami menikmati film action malam itu, sampai-sampai adikku Vino Sudah
tertidur di bangku sofa, mama mengangkatnya ke dalam kamar Vino. Karna melihat
adik yang sudah di antar ke kamar, aku masuk ke kamar juga. Lagian malam sudah
mulai larut.
Bagikan
Bintang di Bulan Agustus Chapter 6
4/
5
Oleh
Frendi Nduru

