Rabu, 01 Agustus 2018

Bintang di Bulan Agustus Chapter 6




Apakah bintang itu memang lagi betul-betul kesepian dan bulan tidak pernah mengerti persaan si bintang yang sebenarnya.

Karna aku sedikit kesal kepada Ricard yang tidak sempat mejawab pertanyaanku, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Namun rasa kekesalanku padanya tidak bertahan lama, karna aku juga harus mengerti, bahwa tadi itu dia baru aja sampai di tempat kerja. Tidak seharusnya aku memperlakukannya begitu. Setibanya dirumah, seperti biasa aku langsung masuk ke dalam kamar, mengambil buku untuk mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan minggu depan. Aku memang rajin mengerjakan tugas kampus, karna aku tidak mau merasa terbebani disaat tugas-tugasku menumpuk. Jadi, apa salahnya aku memanfaatkan waktu luangku untuk mengerjakan tugas tersebut. Selesai mengerjakan tugas, aku mengisi buku diaryku tentang perjalanan hari ini. Dimana hari ini tidak ada kesan yang membuatku bahagia. Padahal sebenarnya aku berharap diberikan puisi oleh pria penggoda itu di toko buku tadi. Aku merasa terlalu berharap dan kebanyakan menghayal. Pemikiranku saat itu memang betul-betul buyar dan sedikit pusing. Dan akhirnya aku tertidur siang itu di tempat tidur.
Setalah aku bangun kira-kira pukul empat sore aku mandi untuk mendinginkan pikiranku dan menyegarkan semua tubuhku alias biar wangi. Setelah mandi aku melihat ada chat kontak dari nomor baru. Dan chat itu adalah sepenggalan puisi yang isinya.

Bintang itu adalah aku
yang menantikan bulan
kembali menyinari hidupku

Kemudian aku melihat foto profil si pengirim, ternyata hanya gambar bintang. Lalu aku mulai mengerti dan tahu apa maksud dan tujuan dari chat barusan. Itu adalah jawaban dari pertanyaanku kepada si pria penggoda tadi siang.
"waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" Teriakku yang spontan dan keras membuat ibuku terdengar.
"Dila kamu kenapa"  ucap ibuku yang sedikit panik dari luar kamarku. "tidak apa-apa kok mah, hanya nonton film aja tadi" sahutku. "oh yasudah kalau tidak apa-apa" mamapun pergi meninggalkan kamarku.
Aku benar-benar bahagia saat itu, tapi tidak tahu kenapa. Yang jelas chat itu seperti menghilangkan semua masalah yang ada di benakku selama beberapa hari ini. Sontak wajahku yang agak sedikit murung saat itu langsung ceria kembali, buku diary yang sudah aku tulis tadi berending kebahagiaan. Lalu aku keluar dari pintu kamar karna ini  sudah benar-benar jam makan malam. Aku menuju meja makan yang dimana hanya aku dan adikku Vino yang sudah duduk. Ayahku masih belum pulang kerja, sedangkan ibu baru selesai mandi.
"Ma..." teriakku dari meja makan
"Iyah, makan deluan saja Dil," sahut mamaku dari dalam kamar.

Akupun makan bersama adikku di meja yang sama. Setelah selesai makan, kami nonton di ruang tamu bersama. Dan ditengah film sedang mulai, akhirnya ayah pulang kerja. Ayah langsung pergi ke kamar tanpa melihat kami yang sedang duduk diruang tamu. Hanya ibu yang berbicara dengan ayah saat itu, karna ibu yang menjemput ayah di depan pintu. Aku ngerti situasi seperti itu, pasti ayah sudah sangat kelelahan. Tapi Apakah adikku Vino mengerti itu, dia pasti sangat membutuhkan kasih sayang dari ayah. Apalagi jiwa Vino yang masih remaja yang tergolong masih labil, aku sedikit takut bila kurangnya kasing sayang kedua orang tua dapat menjerumuskan Vino ke hal-hal yang negatif. Tapi aku yakin adikku tidak seperti itu, toh masih ada mama yang selalu perhatian dengan aku dan Vino. Kami menikmati film action malam itu, sampai-sampai adikku Vino Sudah tertidur di bangku sofa, mama mengangkatnya ke dalam kamar Vino. Karna melihat adik yang sudah di antar ke kamar, aku masuk ke kamar juga. Lagian malam sudah mulai larut. 

EPISODE SEBELUMNYA                                                                           EPISODE SELANJUTNYA

Bagikan

Jangan lewatkan

Bintang di Bulan Agustus Chapter 6
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.