Ternyata dia balik ketampanannya yang suka senyum, Ricard menanggung banyak
beban dalam hidupnya.
"Aku mulai suka buat puisi sejak ayahku meninggal. Hatiku tentu sangat
terpukul, karna aku yang masih usia remaja saat itu bingung harus bagaimana
menjalani hidupku tanpa pemimpin di keluargaku. Aku tidak bisa berdiam diri
begitu saja. Lalu aku sering menuangkan kesedihanku di dalam sebuah puisi Dil.
Dan aku sangat suka melakukan hal itu karna bisa sedikit melepas semua
masalahku".
"Akupun bekerja untuk membiayai uang kuliahku, soalnya kalau hanya
mengharapkan penghasilan dari ibuku, aku tidak akan bisa kuliah sampai
sekarang."
"kamu hebat yah card" seruku untuk memotivasinya. Karna aku sudah
mulai melihat kesedihan yang ada dimata Ricard, aku menyuruhnya untuk membuat
puisi. Dia sangat semangat dan kembali tersenyum, padahal banyak penderitaan
dibalik senyumnya itu.
Kemudian Ricard mengambil pena dan selembar kertas untuk di tulisnya
rangkaian kata-kata indah yaitu puisi. Ia menyuruhku melihat bintang yang pada
saat malam itu sangat banyak dan terang. Kesedihannya beransur-ansur pulih
menjadi tawa yang lepas. Aku merasa bersalah karna malam itu aku
mengingatkannya kepada masalalunya. Di sela-sela dia menulis, aku menganyakan
soal chatnya kemarin, untuk memastikan apakah itu benar dia. "ini chat
dari kamu yah" sambil memperlihatkan layar handphoneku ke arah Ricard.
"iyah, kenapa nggak kamu balas?" pertanyaan kepadaku.
"Aku nggak bisa balas chat orang sembarangan, apa lagi ini nomor baru.
Makanya nggak aku balas" .
"oh" jawab Ricard tanpa memperhatikanku karna ia sedang asyik
menulis puisinya. Lalu aku menambahkan nomor Ricard di kontakku dan kembali aku
perlihatkan layar handphoneku padanya.
"ha.. kok bintangku" Jawab Ricard sambil tersenyum.
Lalu aku menjawab " Aku kan bulanmu, karna kamu bilang kamu adalah
bintang, maka aku buat nama kamu menjadi Bintangku"
"hehehe,, " tawanya yang singkat.
Aku berhasil membuat dia semakin terhibur
malam itu. Dan selesai ia membuat puisi, dia memberikan kertas putih
berisi syair indahnya itu kepadaku. Lalu aku menolaknya, karna aku ingin dia
yang membacakan puisi itu kepadaku. Ternyata, puisinya lebih keren ketika dia
yang membacakannya. Nada-nada yang turun naik dan juga suara yang keras dan
lembut menyatu menjadi sebuah irama yang bagus untuk sebuah puisi. Mulai malam
itu, aku sudah tahu siapa Ricard sebenarnya.
Sejak saat itu pula kami mulai dekat. Hampir setiap hari aku menemani
Ricard di toko buku sehabis pulang kuliah. Dia selalu memberikan aku
penggalan-penggalan puisi yang indah. Dia juga pernah datang kerumahku untuk
mengantarkanku sehabis selesai kerja. Ibuku dan adiku Vino sangat menerimanya.
Tiap hari juga, aku membantunya untuk mengerjakan tugas kuliahnya, bukan karna
itu aku jadi babu nya, justru karna aku memang niat untuk membantunya. Lagian
dia tidak pernah menyuruhku untuk mengerjakan tugasnya, dia selalu melarangku
untuk tidak melakukan apapun tentang tugas-tugasnya di kampus. Karna aku tahu
dia lelah yah mau tak mau aku harus melakukannya. Aku tahu seberapa besar beban
dan tanggung jawab Ricard terhadap ibunya dan untuk masa depannya. Untuk itu
tidak salah bila aku bisa sedikit menjadi orang yang memotivasinya mengejar
impiannya.
Kata Ricard hidupnya sangat kesepian dan tidak mau bergaul dengan orang
lain sejak kepergian ayahnya untuk selama-lamanya. Dia lebih suka menyendiri
dan diam dirumah. Rumahnya adalah tempat dimana dia menciptakan puisi-puisi
yang elok. Aku tahu juga siapa saja yang pernah dekat kepada Ricard, tapi
setelah tahu latar belakang keluarga Ricard semua wanita-wanita yang dekat samanya
pasti akan hilang atau tidak mau bergaul lagi. Itu sebabnya Ricard tidak pernah
pacaran dengan siapapun. Padahal dia tampan dan baik. Dia juga mengatakan,
kalau hanya aku sejauh ini yang bisa bertahan berteman dengan Ricard setelah
mengenalnya lebih dalam. Menurutku sih tidak ada yang salah, selagi ia
merupakan orang yang baik-baik ngapain mesti di jauhi. Justru aku sangat senang
bisa kenal dengannya. Karna aku selalu menjadi pembaca setia setiap puisinya.
EPISODE SEBELUMNYA EPISODE SELANJUTNYA
EPISODE SEBELUMNYA EPISODE SELANJUTNYA
Bagikan
Bintang di Bulan Agustus Chapter 8
4/
5
Oleh
Frendi Nduru

