Rabu, 01 Agustus 2018

Bintang di Bulan Agustus Chapter 8



Ternyata dia balik ketampanannya yang suka senyum, Ricard menanggung banyak beban dalam hidupnya.

"Aku mulai suka buat puisi sejak ayahku meninggal. Hatiku tentu sangat terpukul, karna aku yang masih usia remaja saat itu bingung harus bagaimana menjalani hidupku tanpa pemimpin di keluargaku. Aku tidak bisa berdiam diri begitu saja. Lalu aku sering menuangkan kesedihanku di dalam sebuah puisi Dil. Dan aku sangat suka melakukan hal itu karna bisa sedikit melepas semua masalahku".
"Akupun bekerja untuk membiayai uang kuliahku, soalnya kalau hanya mengharapkan penghasilan dari ibuku, aku tidak akan bisa kuliah sampai sekarang."
"kamu hebat yah card" seruku untuk memotivasinya. Karna aku sudah mulai melihat kesedihan yang ada dimata Ricard, aku menyuruhnya untuk membuat puisi. Dia sangat semangat dan kembali tersenyum, padahal banyak penderitaan dibalik senyumnya itu.
Kemudian Ricard mengambil pena dan selembar kertas untuk di tulisnya rangkaian kata-kata indah yaitu puisi. Ia menyuruhku melihat bintang yang pada saat malam itu sangat banyak dan terang. Kesedihannya beransur-ansur pulih menjadi tawa yang lepas. Aku merasa bersalah karna malam itu aku mengingatkannya kepada masalalunya. Di sela-sela dia menulis, aku menganyakan soal chatnya kemarin, untuk memastikan apakah itu benar dia. "ini chat dari kamu yah" sambil memperlihatkan layar handphoneku ke arah Ricard. "iyah, kenapa nggak kamu balas?" pertanyaan kepadaku.
"Aku nggak bisa balas chat orang sembarangan, apa lagi ini nomor baru. Makanya nggak aku balas" .
"oh" jawab Ricard tanpa memperhatikanku karna ia sedang asyik menulis puisinya. Lalu aku menambahkan nomor Ricard di kontakku dan kembali aku perlihatkan layar handphoneku padanya.
"ha.. kok bintangku" Jawab Ricard sambil tersenyum.
Lalu aku menjawab " Aku kan bulanmu, karna kamu bilang kamu adalah bintang, maka aku buat nama kamu menjadi Bintangku"
"hehehe,, " tawanya yang singkat.

Aku berhasil membuat dia semakin terhibur  malam itu. Dan selesai ia membuat puisi, dia memberikan kertas putih berisi syair indahnya itu kepadaku. Lalu aku menolaknya, karna aku ingin dia yang membacakan puisi itu kepadaku. Ternyata, puisinya lebih keren ketika dia yang membacakannya. Nada-nada yang turun naik dan juga suara yang keras dan lembut menyatu menjadi sebuah irama yang bagus untuk sebuah puisi. Mulai malam itu, aku sudah tahu siapa Ricard sebenarnya.

Sejak saat itu pula kami mulai dekat. Hampir setiap hari aku menemani Ricard di toko buku sehabis pulang kuliah. Dia selalu memberikan aku penggalan-penggalan puisi yang indah. Dia juga pernah datang kerumahku untuk mengantarkanku sehabis selesai kerja. Ibuku dan adiku Vino sangat menerimanya. Tiap hari juga, aku membantunya untuk mengerjakan tugas kuliahnya, bukan karna itu aku jadi babu nya, justru karna aku memang niat untuk membantunya. Lagian dia tidak pernah menyuruhku untuk mengerjakan tugasnya, dia selalu melarangku untuk tidak melakukan apapun tentang tugas-tugasnya di kampus. Karna aku tahu dia lelah yah mau tak mau aku harus melakukannya. Aku tahu seberapa besar beban dan tanggung jawab Ricard terhadap ibunya dan untuk masa depannya. Untuk itu tidak salah bila aku bisa sedikit menjadi orang yang memotivasinya mengejar impiannya. 


Kata Ricard hidupnya sangat kesepian dan tidak mau bergaul dengan orang lain sejak kepergian ayahnya untuk selama-lamanya. Dia lebih suka menyendiri dan diam dirumah. Rumahnya adalah tempat dimana dia menciptakan puisi-puisi yang elok. Aku tahu juga siapa saja yang pernah dekat kepada Ricard, tapi setelah tahu latar belakang keluarga Ricard semua wanita-wanita yang dekat samanya pasti akan hilang atau tidak mau bergaul lagi. Itu sebabnya Ricard tidak pernah pacaran dengan siapapun. Padahal dia tampan dan baik. Dia juga mengatakan, kalau hanya aku sejauh ini yang bisa bertahan berteman dengan Ricard setelah mengenalnya lebih dalam. Menurutku sih tidak ada yang salah, selagi ia merupakan orang yang baik-baik ngapain mesti di jauhi. Justru aku sangat senang bisa kenal dengannya. Karna aku selalu menjadi pembaca setia setiap puisinya.

EPISODE SEBELUMNYA                                                                       EPISODE SELANJUTNYA

Bagikan

Jangan lewatkan

Bintang di Bulan Agustus Chapter 8
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.