Senin, 19 Februari 2018

Pertemuan Singkat


Aku memiliki teman yang lumayan cerdik tapi fisiknya lemah, manis tapi tidak tampan.
Dia adalah orang yang tidak mudah jatuh cinta tetapi ia percaya dengan cinta pandangan pertama.
Aku mulai yakin hal itu, ketika aku dan dia lagi  ke satu Gereja . Saat itu aku memperhatikan dirinya yang sedang

memperhatikan salah satu Gadis cantik yang duduk tepat dipinggir jendela gereja. Pandangannya terasa beda kepada Gadis

tersebut. Ternyata betul, ia telah terpikat dengan gadis itu. Katanya Gadis yang duduk disebelah gereja itu beda dengan wanita

lain ( itu sih kata-kata klasik yang sering dikatakan orang-orang yang sedang jatuh cinta).
Tak terasa kebaktian gereja hampir selasai dan temanku bilang, ia ingin sekali bisa kenalan langsung dengan gadis tersebut,

namun apa daya, keberanian tidak ada padanya. Dirinya hanya bisa melihat dari kejauhan saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan

akhirnya kebaktian selesai, dan aku yakin yang ia rasa saat itu pasti gelisah dan ingin menyesal karna telah menyia-nyiakan

kesempatan yang hanya beberapa jam.

Semua orang pun berpulangan dan Temanku kehilangan gadis tersebut. Dia mencari-cari gadis tersebut sedangkan aku hanya

bisa menunggu ia di motor karna aku tidak ingin berurusan sama sekali. Ternyata Ia balik tanpa mendapatkan hasil apa-apa,

Gadis itu hilang bagaikan api yang disiram langsung hangus. Temanku kecewa dan menyesal, karena belum sempat mengetahui

namanya. Pertemuan itu sangat singkat dan tak berarti apa-apa. Setelah menunggu beberapa menit dan suasana parkir gereja

yang semakin sepi, Aku dan Dia pulang dengan mengendarai sepeda motor. Aku langsung meminta kunci motor dan kami

pulang. Tidak jauh dari gereja, diperjalanan kami jumpa dengan Gadis itu, ternyata dia naik motor dengan seorang Gadis

didepannya. Ternyata Temanku sangat mengenali Gadis yang membawanya tersebut.

Perkenalanpun berlangsung dari atas motor , Tanpa rasa takut temanku menanyakan namanya kepada Gadis yang membawa

motor tersebut, tidak secara langsung dengan perempuan yang ia bonceng. Merekapun saling berbincang-bincang dan aku tetap

fokus membawa motor agar tidak jatuh. Selesai mereka kenalan kami pisah arah dengan gadis itu, dan setibanya dirumah entah

mengapa temanku itu senyum-senyum sendiri. Dia sangat senang karna bertemu gadis manis disebuah gereja meski hanya

dengan beberapa jam bertemu. Namun baginya itu merupakan pertemuan yang membahagiakan dirinya.
Baca selengkapnya

Rabu, 07 Februari 2018

Kehilangan Satu Motivator

Tepat terjadinya gerhana bulan yang indah tanggal 31-01-2018 yang hanya terjadi 150 tahun sekali. Disaat itu juga aku kehilangan sosok motivator dalam hidup sejak aku kecil. Meski dia bukanlah orang tuaku tetapi dia yang melahirkan Ayahku, yah dia adalah seorang nenek yang sangat kuat,tegar dan lemah lembut. Aku begitu dekat dengannya hampir 17 tahun dia bersamaku.



Meski dia hanya seorang nenek dalam keluargaku, bukan berarti tidak ada kisah yang pernah ku lalui bersamanya. Bahkan sangat banyak kenangan indah yang pernah aku lakukan bersama nenek kami tercinta.

Seperti yang aku katakan tadi, bahwa nenek adalah wanita kuat, itu benar. Ia tidak mau menyusahkan orang banyak untuk membeli sesuatu yang Ia inginkan. Meskipun itu murah harganya. Nenek selalu mencari cara untuk mendapatkan pundi-pundi uang setiap usahanya. Meski umurnya sudah lanjut usia atau bisa dikatakan secara fisik sangatlah lemah, tapi itu semua Ia patahkan. Seoalah olah Ia menjadi wanita hebat tanpa ada penderitaan dalam hidupnya.

Dulu dia pernah membuat tikar, sapu lidi untuk Ia jual. Nenek sangat kreatif, tapi sayang ilmunya mungkin belum ada yang bisa kami terapkan. Nenek juga dulu pintar masak, aku sangat suka masakan ikan dan sayur buatannya. Memakan masakan nenek rasanya seperti masakan tahun 50-an dulu atau masakan yang tidak pernah aku cicipi.

Namun dibalik kegigihannya tersebut, Nenek diserang macam-macam penyakit. Mulai dari pening-pening, sesak napas, kulit yang gatal-gatal dan rabutnyapun mulai memutih. Dibalik itu banyak sekali kenangan yang tak pernah aku lupakan. Mulai dari aku mengantar nenek ke rumah sakit, mijat kepalanya meski aku tak pandai, dan juga mencabut uban nenek.

Aku juga ingat, ketika pergi untuk melanjutkan pendidikanku di Kota. Ia menangis, Karena Ia takut aku tidak akan melihatnya ketika azalnya nanti t'lah tiba. Namun sebaliknya aku berpikir bahwa nenek dan orangtuaku akan baik-baik saja disini.

Setelah beberapa bulan aku di Kota, sering kali aku menelpon mereka, meski ketika aku berbicara dengan nenek tapi ia tidak dengar, ada adikku atau ayahku disana yang memberitahukan kepadanya apa yang aku katakan. Aku selalu memberikan salam kepada Nenek dan juga menanyakan bagaimana keadaannya. Terkadang aku menangis mendengar suara rentanya itu. Seolah-olah aku ingin pulang dan melihat bagaimana kedaan mereka secara langsung.

Disaat beberapa bulan lagi aku ingin pulang kampung, ada masalah di tempat orangtua dan nenekku tinggal, mereka pergi dari situ dan nenek dibawak ke rumah saudara ayah yang jauh dan takpernah aku injaki seumur hidupku. Tentu kesedihan dan kerinduan semakin mendalam. Karena saat aku pulang kampung aku tidak ada waktu untuk ke tempat nenekku tercinta saat itu. Hanya ke tempat orangtuaku yang baru yang bisa aku kunjungi karena aku memang terbatas oleh waktu libur.

Dan akupun balik ke tempat dimana aku melanjutkan pendidikanku. Disana aku selalu memikirkan bagaimana keadaan nenek sekarang. Akhirnya berjalan setahun aku di Kota perantauan yang berarti sudah setahun aku tidak berjumpa dengan nenek. Lalu akan memberanikan diri untuk pergi ketempat nenek sendirian, meski libur yang hanya beberapa hari.

Pada akhirnyapun aku sangat senang bisa berjumpa dengannya meski pertama kali aku sampai, nenek sama sekali tidak mengenaliku. Ia menangis dan akupun terikut suasana saat itu. Aku melihat tubuhnya bukan seperti yang dulu, ia semakin kurus kering, dimana-mana ada luka gigitan nyamuk dibadannya. Rasanya aku ingin membawa nenek pergi saat itu dari tempat tersebut. Namun apa dayaku, aku hanya seorang cucuk yang belum memiliki tanggung jawab untuk mengurus nenek.
Waktukupun untuk pulang ke tampat perantauan telah tiba, rasanya begitu berat untuk melangkah pergi meninggalkan nenek. Tapi ternyata,  itulah saat terakhirku melihat nenek bernafas.
Selang beberapa bulan, aku ditelpon dari tempat dimana nenekku tinggal, kata mereka bahwa nenek ingin juga dengan kami anak-anak dan cucu-cucunya. Namun satu orangpun tak ada yang menjumpainya, apalagi aku yang sedang terikat dipekerjaanku. Hanya dua hari setelah aku mendengar suara nenek yang terakhir kalinya, ada kabar bahwa ia meninggal tempat pukul 21:00 WIB.

Betapa terpukulnya hatiku mendengar itu, betapa aku sangat menyalahkan diriku sendiri, aku menangis dengan penuh penyesalan. Ternyata nenek sudah tidak ada untuk selama-lamanya. Nenek sudah sembuh dari penyakitnya, ia sudah tidak menderita lagi. Semoga nenek di terima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Aku sayang nenek, kami cinta nenek. Salam dari cucumu nek :'( . Semua nasehatmu akan selalu aku pegang dan aku laksanakan.

Baca selengkapnya