PERBEDAAN #2
Akhirnya tibalah probema yang membuat aku berpikir bahwa ini adalah akhir dari segala yang aku takutkan. Akhir dari berakhirnya hubungan kami. Dimana ketika dihari bahagia kami aku dan Nisa, Orang tuaku dan Orang tua Nisa yaitu hari WISUDA. Berubah menjadi seperti hari yang paling menyakitkan dan membunuh jiwaku perlahan. Mungkin itulah yang di rasakan oleh Nisa juga.
Sewaktu sesi foto-foto wisuda di halaman depan aula, aku menemui Nisa dan ingin hendak berfoto dengannya juga.
"hai Nis, selamat yah...." Ucapku kepadanya
"Niel.... " Memelukku dan sambil menangis dan disaksikan oleh orang tua Nisa dan Pria yang tidak pernah aku liat. Ibunya melepaskan pelukan Nisa yang terlalu lama memelukku, begitu juga denganku. Aku pelan-pelan menenangkannya, aku tidak itu tangis haru atas wisuda, atau malah menjadi tangis terakhir yang aku liat di wajahnya.
"Kamu ngapain nangis Nis, inikah hari bahagia kita, Kita sarjana sekarang" Ucapku sembari melihat wajah Nisa yang aku tidak tahu mengapa di penuhi air mata.
"Niel....." Kata nisa lalu di potong oleh ayahnya....
"Nak niel, Ini Bram" kata ayah Nisa sambil menunjuk bram.
Pria yang tak ku kenal itu bernama bram, lalu mengulurkan tanganya kepadaku,
"Bramono, panggil saja Bram"
"Daniel" jawabku dengan tegas.
"Nak Niel, Bram bapak bawak kemari untuk menemani Wisuda Nisa putri Kami" "Bram adalah calon suami Nisa"
Mendengar kata itu, aku merasa ada alunan musik yang membuat aku terdiam dan perlahan menitihkan air mata. Namun aku pura-pura bisa dan tak mau mendengarkan. Aku seperti baru ditusuk oleh jarum yang tipis namun sangat tajam. Jarum itu tiba-tiba datang menusuk kulit hingga tembus ke tulang rusukku. Sama seperti datangnya seorang pria yang bernama bram yang mencoba merebut bidadariku untuk selama-lamanya. Aku pun langsung pergi dari tempat itu, dan memberikan salam ke arah orangtua Nisa. Aku sempat melihat Nisa yang menangis ke arahku di pelukan ibunya. Aku pergi menuju mobil yang dimana orangtuku sudah menunggu. Di hari bahagia itu, tidak ada satupun kenangan bahagai buat aku dan nisa, bahkan foto bersama pun tak sempat. Tidak ada yang bisa dikenang di dalam hubugan ini. Betul-betul aku sudah sangat bingung sekarang. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Apakah harus merebut Nisa kembali atau terus berdiam sampai melihat Nisa menuju plaminan dengan pria yang di jodohkan dengannya.
Sampai pada keesokan harinya, Nisa meneleponku lalu meminta aku untuk menjumpainya disebuah taman kecil tempat sering nongkrong. Nisa memegang tanganku dan mengatakan "Niel, kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkanku apapun itu masalahnya dan hambatannya, jadi kamu jangan pergi dariku". Mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Nisa membuat aku merasa dilema dengan pilihan yang aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan bagaimana.
"Nis, aku memang mencintaimu, tapi tidak selamanya mencintai harus memiliki" Ucapku sembari memeluknya.
"Apa maksudmu Niel, kamu tidak mau memperjuangkan cinta kita" ,menatapku sambil menangis..
Kalau bisa dilihat oleh Nisa, aku lebih manangis didalam hatiku yang paling dalam, namun aku tidak mau terlihat lemah di mata Nisa. Karna dia tahu, aku adalah pria tangguhnya.
"Nis, itulah takdir kita, Mencintai tapi tidak memiliki" seruku kepada Nisa
"Kenapa baru sekarang kamu bilang itu Niel, disaat aku sudah sangat mencintaimu dan menyayangimu. Kamu yang bilang, kalau kamu sangat mengasihiku" Kata Nisa Kepadaku...
"Nisa, Aku sangat mengasihimu, namun percuma kalau kita memperjuangkan hubungan ini terus tanpa restu kedua orang tua kita."
"Oke kalau begitu,Bila kamu memang benar mengasihiku. kamu harus berkorban Niel, Kamu harus ikut denganku.. Dengan agamaku yang sama?"
Medengar kata-kata yang keluar dari bibir Nisa, membuat aku tidak percaya bahwa dia adalah Nisa yang aku kenal selama ini.
"Aku tidak percaya kalau kamu mengatakan itu Nisa, aku mangasihimu, apa adanya. Aku tidak perduli apa agamamu, apa sukumu. tapi jangan kamu jadikan semua cintaku padamu, menjadi alasan aku untuk ikut denganmu. Aku tidak bisa Nisa" Tegasku dengan Nisa.
Nisa pun pergi dan terakhir kali mengatakan "Kamu jahat Niel"....
Karna tidak mau mengalah, sama-sama ingin mempertahankan iman kami,perbedaan agamalah yang menjadi alasan perpisahan hubungan diantara kami. Sejak saat itu Nisa tidak pernah menghubungiku lagi. Bahkan aku saat bertemu dia tidak pernah bertegur sapa. Dia sudah benar-benar berubah dan tidak mau menemuiku lagi. Karna aku tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan, aku memutuskan untuk pergi dari kota itu. Karna ada begitu banyak kenangan indah yang membuat aku selalu terbayang dengan Nisa. Sehingga aku memutuskan pergi melanjutkan S2 ku di luar Negeri. Sampai akhirnya aku menerima email dari Nisa yaitu undangan pernikahannya. Aku bahagia melihat dia sudah bisa menerima pasangan barunya. Aku beryukur kepada Tuhan karna aku pernah dipertemukan kepada Nisa. Meski berending perpisahan, namun aku tetap beryukur bahwa Tuhan punya rencana terbaik untuk Masa Depanku.
SELESAI
SEBELUMNYA











