Minggu, 05 Agustus 2018

PERBEDAAN #2



Akhirnya tibalah probema yang membuat aku berpikir bahwa ini adalah akhir dari segala yang aku takutkan. Akhir dari berakhirnya hubungan kami. Dimana ketika dihari bahagia kami aku dan Nisa, Orang tuaku dan Orang tua Nisa yaitu hari WISUDA. Berubah menjadi seperti hari yang paling menyakitkan dan membunuh jiwaku perlahan. Mungkin itulah yang di rasakan oleh Nisa juga.

Sewaktu sesi foto-foto wisuda di halaman depan aula, aku menemui Nisa dan ingin hendak berfoto dengannya juga.

"hai Nis, selamat yah...." Ucapku kepadanya
"Niel.... " Memelukku dan sambil menangis dan disaksikan oleh orang tua Nisa dan Pria yang tidak pernah aku liat. Ibunya melepaskan pelukan Nisa yang terlalu lama memelukku, begitu juga denganku. Aku pelan-pelan menenangkannya, aku tidak itu tangis haru atas wisuda, atau malah menjadi tangis terakhir yang aku liat di wajahnya.

"Kamu ngapain nangis Nis, inikah hari bahagia kita, Kita sarjana sekarang" Ucapku sembari melihat wajah Nisa yang aku tidak tahu mengapa di penuhi air mata.
"Niel....." Kata nisa lalu di potong oleh ayahnya....
"Nak niel, Ini Bram" kata ayah Nisa sambil menunjuk bram.
Pria yang tak ku kenal itu bernama bram, lalu mengulurkan tanganya kepadaku,
"Bramono, panggil saja Bram"
"Daniel" jawabku dengan tegas.
"Nak Niel, Bram bapak bawak kemari untuk menemani Wisuda Nisa putri Kami" "Bram adalah calon suami Nisa"

Mendengar kata itu, aku merasa ada alunan musik yang membuat aku terdiam dan perlahan menitihkan air mata. Namun aku pura-pura bisa dan tak mau mendengarkan. Aku seperti baru ditusuk oleh jarum yang tipis namun sangat tajam. Jarum itu tiba-tiba datang menusuk kulit hingga tembus ke tulang rusukku. Sama seperti datangnya seorang pria yang bernama bram yang mencoba merebut bidadariku untuk selama-lamanya. Aku pun langsung pergi dari tempat itu, dan memberikan salam ke arah orangtua Nisa. Aku sempat melihat Nisa yang menangis ke arahku di pelukan ibunya. Aku pergi menuju mobil yang dimana orangtuku sudah menunggu. Di hari bahagia itu, tidak ada satupun kenangan bahagai buat aku dan nisa, bahkan foto bersama pun tak sempat. Tidak ada yang bisa dikenang di dalam hubugan ini. Betul-betul aku sudah sangat bingung sekarang. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Apakah harus merebut Nisa kembali atau terus berdiam sampai melihat Nisa menuju plaminan dengan pria yang di jodohkan dengannya.

Sampai pada keesokan harinya, Nisa meneleponku lalu meminta aku untuk menjumpainya disebuah taman kecil tempat sering nongkrong. Nisa memegang tanganku dan mengatakan "Niel, kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkanku apapun itu masalahnya dan hambatannya, jadi kamu jangan pergi dariku". Mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Nisa membuat aku merasa dilema dengan pilihan yang aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan bagaimana.

"Nis, aku memang mencintaimu, tapi tidak selamanya mencintai harus memiliki" Ucapku sembari memeluknya.
"Apa maksudmu Niel, kamu tidak mau memperjuangkan cinta kita" ,menatapku sambil menangis..

Kalau bisa dilihat oleh Nisa, aku lebih manangis didalam hatiku yang paling dalam, namun aku tidak mau terlihat lemah di mata Nisa. Karna dia tahu, aku adalah pria tangguhnya.

"Nis, itulah takdir kita, Mencintai tapi tidak memiliki" seruku kepada Nisa
"Kenapa baru sekarang kamu bilang itu Niel, disaat aku sudah sangat mencintaimu dan menyayangimu. Kamu yang bilang, kalau kamu sangat mengasihiku" Kata Nisa Kepadaku...
"Nisa, Aku sangat mengasihimu, namun percuma kalau kita memperjuangkan hubungan ini terus tanpa restu kedua orang tua kita."

"Oke kalau begitu,Bila kamu memang benar mengasihiku. kamu harus berkorban Niel, Kamu harus ikut denganku.. Dengan agamaku yang sama?"

Medengar kata-kata yang keluar dari bibir Nisa, membuat aku tidak percaya bahwa dia adalah Nisa yang aku kenal selama ini.

"Aku tidak percaya kalau kamu mengatakan itu Nisa, aku mangasihimu, apa adanya. Aku tidak perduli apa agamamu, apa sukumu. tapi jangan kamu jadikan semua cintaku padamu, menjadi alasan aku untuk ikut denganmu. Aku tidak bisa Nisa" Tegasku dengan Nisa.

Nisa pun pergi dan terakhir kali mengatakan "Kamu jahat Niel"....

Karna tidak mau mengalah, sama-sama ingin mempertahankan iman kami,perbedaan agamalah yang menjadi alasan perpisahan hubungan diantara kami. Sejak saat itu Nisa tidak pernah menghubungiku lagi. Bahkan aku saat bertemu dia tidak pernah bertegur sapa. Dia sudah benar-benar berubah dan tidak mau menemuiku lagi. Karna aku tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan, aku memutuskan untuk pergi dari kota itu. Karna ada begitu banyak kenangan indah yang membuat aku selalu terbayang dengan Nisa. Sehingga aku memutuskan pergi melanjutkan S2 ku di luar Negeri. Sampai akhirnya aku menerima email dari Nisa yaitu undangan pernikahannya. Aku bahagia melihat dia sudah bisa menerima pasangan barunya. Aku beryukur kepada Tuhan karna aku pernah dipertemukan kepada Nisa. Meski berending perpisahan, namun aku tetap beryukur bahwa Tuhan punya rencana terbaik untuk Masa Depanku.

                                                              SELESAI

SEBELUMNYA
Baca selengkapnya

PERBEDAAN #1

Namaku Niel, kependekkan dari Daniel. Ayah ibuku mengambil namaku dari Alkitab, yaitu kitab suciku. Aku adalah umat kristiani yang taat kepada Tuhanku yaitu Yesus Kristus. Aku memiliki Kakak perempuan yang bernama Rifka. Dia menikah dengan seorang pendeta yang sangat terkenal di kotanya. Aku adalah anak laki-laki satu-satunya dikeluarga. Karna adiku merupakan seorang wanita juga yang bernama Sara. Ketiga nama kami memang di ambil dalam alkitab dan bisa dibilang kalau kami merupakan keluarga yang taat akan agama.



Tapi.. Itu bukanlah kisahku, namun inilah cerita. Tentang perbedaan diantara aku dan dia.
"Niel, aku solat dulu.. Nanti kita telponan lagi" serunya kepadaku dan mengucapkan salam.

Namanya Nisa, wanita berkerudung dan tidak fanatik. Baik, dan ramah, cantik dan lucu, manis dan soleha, itulah definisi yang cocok untuk nya. Namun aku tidak tahu , Tuhan punya rencana apa dengan hubunganku yang berbeda agama ini. Rasanya aku ingin menangis ketika membayangkan hubungan kami kedapannya. Sudah hampir tiga tahun kami mejalani hubungan tanpa restu dari kedua orang tuaku, maupun orang tua Nisa. Orang tuaku merupakan pelayan hamba Tuhan sedangkan orang tua Nisa adalah Ulama yang tersohor di kota kami. Tidak sedikit orang-orang yang mengetahui hubungan kami, tidak sedikit pula orang-orang mengatakan bahwa hubungan perbedaan agama tidak akan bertahan lama. Tapi kami bisa membuktikan itu sampai sekarang. Sampai dimana aku dan Nisa bisa memahami satu sama yang lain. Kami tidak pernah peduli apa kata orang mengenai hubungan perbedaan agama ini, bahkan orang tua kami yang mengatakan bahwa tidak ada restu bagi kami yang tidak mengijikan perkawinan dua agama berbeda.

Aku bertemu Nisa di kampusku ketika masih semester empat. Waktu itu, dia sekelasku. Jadi kami sering melakukan pekerjaan kelompok. Aku suka mengusilin dia, bahkan pernah membuatnya sampai menangis. Dia wanita yang terlalu baik menurutku sehingga aku jera untuk membuat merasa di teror dengan kejailanku. Sehingga waktu itu dia malah merindukan kejailanku itu. Aku merasa agak aneh dan lucu juga. Karna Nisa memintaku untuk melanjutkan menjailinya. Dia kira aku marah kepadanya karna sudah memutuskan untuk tidak menjailinya lagi, Dan itu sangatlah lucu. Dari situlah aku pertama kali jatuh cinta kepada Nisa dan begitu juga dengan dia. Akhirnya kami pacaran sampai kami membuat perjanjian untuk wisuda sama-sama dan menikah ketika sudah memiliki karir masing-masing.

Terkadang aku merenung, mengapa harus berbeda-beda, toh hanya Tuhan hanya satu. Mengapa harus dilarang, kalau Kita sama-sama mengimani Agama kita masing-masing.

"Niel, malam minggu nanti kamu ke gereja?" Tanya Nisa kepadaku.
"Iyah, aku harus muda-mudi Nis, kamu mau ikut".. Seruku sambil menjawab
"Oke, aku seperti biasa yah, nunggu di luar. hehe" Jawabnya dengan senyum yang indah...

Begitulah kami setiap harinya, Dia menunggu aku diluar gereja, dan aku juga kadang mengantarkan ia solat di Mesjid. Sampai-sampai kami seperti memiliki dua agama di mata orang, padahal tidak. Namun anggapan itu tidak menjadi permasalah untuk kami terus melakukan hal seperti itu, Aku tetap mau mengantarkan Nisa ke mesjid, dan dia mau menemaniku Ibadah malam minggu di Rumah bapa di sorga. Hampir setiap malam minggu kami ada di Gereja, dan malam berikutnya kami di Mesjid. Aku tidak tahu itu dosa atau tidak, yang jelas kami tidak melakukan hal-hal yang terlarang yang sudah tertulis di kitab suci kami masing-masing, kecuali soal hubungan pacaran kami.

"Nisa, Kamu bosan dengan hubungan kita??"
"Nggak kok, kenapa kamu tiba-tiba menyakan itu?" jawab Nisa sambil memberikan pertanyaan
" Tidak, aku hanya takut kehilanganmu saja"
"hmmm,, kamu ...." Nisa sambil tersenyumm

Aku tahu, bahwa Nisa sudah banyak menanggung tekanan dari keluarganya, itu sudah tampak jelas dengannya nada bicaranya yang sudah tidak seperti Nisa yang aku kenal. Aku memang sangat takut, bila Nisa tidak menjadi milikiku. Karna aku mencintainya lebih dari cinta Nisa kepadaku.

"Niel, Aku sangat mencintaimu..." Kata nisa kepadaku...
"Aku juga Nis, aku tidak ingin pisah darimu "...
"Janji yah Niel, apapun  yang terjadi kamu tidak akan meninggalkanku??"
"Aku janji Nis..." sambil tersenyum untuk membuat Nisa percaya denganku.

Aku tahu maksud dari pernyataan Nisa yang mengatakan itu, Aku tahu akan ada masalah besar yang membuat aku akan melepaskannya. Aku sudah tahu bahwa masa itu akan tiba, persoalan yang tidak tahu bagaiamana aku harus melakukannya. Bagaimana aku harus tegas menjalani hidup ketika harus melepaskan Nisa. Dan permasalahan yang aku takutkanpun tiba.

                                                                                                                          SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Rabu, 01 Agustus 2018

Bintang di Bulan Agustus Chapter 10



Mendengar itu , Ricard menjadi percaya kepadaku, kami pun makan di warung sebelum aku kembali ke rumah dan dia pergi ke tempat kerjanya.
`
Belum penuh satu bulan aku mengenal Ricard sudah sejauh ini. Aku sudah tahu bagaimana karakternya, sudah mengenal siapa ibunya yang sangat baik. Dia juga sudah mendapatkan banyak penghargaan dari hasil dia berpuisi di acara-acara daerah maupun nasional. Bagiku Ricard merupakan Bintang berharga yang di kirimkan Tuhan untuk menemani diriku menjadi penuh warna warni. Di mengajarkan aku tentang bagaimana beryukur dalam menjalani hidup yang sederhana. Dia merupakan pria tampan dari sejuta orang yang sangat menghargai perasaan wanita dengan penuh perasaan dan kelemah lembutan. Satu lagi tentang keluguannya adalah tentang mengungkapkan perasaannya. Dia orangnya tidak terlalu banyak tingkah tetapi pasti.
Dan akhirnya tiba malam terakhir di bulan agustus. Malam terakhir ini pula yang menjadi malam puncak dari kebahagianku selama bulan agustus. Malam yang penuh dengan ekspresi keceriaan. Malam yang menjawab semua pertanyaanku dan harapanku. Karna Ricard mengirimku puisi dengan suaranya.

Aku tahu,
Bintang akan jarang menemani malam
setelah ini
Karna Bulan akan lebih sering di tutupi oleh
pekatnya awan malam
Aku tahu, bulan
akan kesunyian
sama sepeti bintang yang sepi
ketika bulan berhianat
Tapi Aku tidak Tahu,
Kalau bulanku akan pergi menginggalkanku
Ketika bintang yang selalu ada disampingnya
Mengatakan
Bahwa Aku sungguh mencintaimu
Bintang sudah jatuh hati kepada bulan
Dan bintang masih ragu
Apakah bulan juga mencintai bintang..

Itulah puisi dari Ricard yang membuat aku sangat salah tingkah. Aku tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaannya. Yang jelas aku sangat senang dia akhirnya jujur dengan persaannya. Karna apa yang ia rasakan adalah sama dengan yang aku rasakan juga. Bintangku akan selalu aku genggam dan tidak aku biarkan untuk pergi. Karna aku tidak mau kehilangan bintang yang begitu indah didalam hidupku.

SELESAI

EPISODE SEBELUMNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Chapter 9



Dia juga mengatakan, kalau hanya aku sejauh ini yang bisa bertahan berteman dengan Ricard setelah mengenalnya lebih dalam. Menurutku sih tidak ada yang salah, selagi ia merupakan orang yang baik-baik ngapain mesti di jauhi. Justru aku sangat senang bisa kenal dengannya. Karna aku selalu menjadi pembaca setia setiap puisinya.

Tidak terasa bulan agustus tinggal satu minggu lagi, aku dan Ricard sudah semakin dekat. Bahkan dia pernah menyebutkan aku sebagai kata sayang didalam puisinya. Entah itu adalah kode atau sebagai hiasan kata elok di puisinya saja. Dia selalu mengucapkan selamat tidur kepadaku ketika malam mulai larut, dan juga selamat pagi ketika pagi. Aku tahu mengapa dia bisa cepat bangun saat pagi, karna dia gejain tugas dari subuh. Karna aku pernah menanyakan hal itu soalnya kepada dia. Tapi sejauh ini, Ricard tak pernah mengajakku untuk pergi kerumahnya. Entah karna ia malu atau tidak. Padahal aku ingin bertemu ayahnya. Sesekali aku mengajak dia untuk mengerjakan tugas dirumahnya, namun dia tetap menolak "Entar aja" itu selalu jawaban yang keluar dari bibirinya.
"besok pulang kuliah, aku ngikutin dia ajalah, biar aku tahu dimana rumahnya" Ucapku didalam hati. Keesokan harinya setelah matakuliah selesai, aku langsung bergegas melihat Ricard yang sudah berjalan kaki deluan dari arah pagar. Aku sempat berpikir rumahnya dekat dari kampus karna ia hanya berjalan kaki. Aku mengikutinya dari belakang dengan berjalan kaki juga. Ternyata jarak dari rumahnya ke kampus itu satu kilometer. Bagiku itu sangat jauh dan melelahkan. Tapi pada akhirnya aku akhirnya menemukan rumah Ricard yang sederhana. Kemudian setelah dia masuk, aku pun memhampiri rumahnya dan mengetuk pintu.
"Ricard" ucapku sambil mengetuk pintu. Karna dia baru saja masuk rumah, dia cepat untuk membuka pintu.
"Dila.. Kamu kok disini" Seru Ricard yang kaget melihatku tahu kondisi rumahnya.
"aku mengikutimu tadi dari belakang, sorry yah"
"hmmm, yasuda"
"siapa itu card" Ucap suara orang tua dari dalam rumah Ricard.
"temanku buk"
Ternyata suara orang tua itu adalah ibu Ricard. Ibu ricard bekerja sebagai penjahit dirumahnya sendiri.
"bawa masuklah" kata ibu Ricard dengan suara sedikit Renta.
"Iyah bu" lanjut Ricard " Masuklah Dil"
Kemudian aku masuk dan duduk di kursi kecil yang sama dengan kursi jahit ibunya Ricard. Ternyata ibunya sangat hebat dalam menjadi kebaya wanita. Di atas lemari kayu tepat di ruang tamu sebelah ibu Ricard menjahit ada beberapa trofi dan piagam penghargaan.
" trofi itu siapa buk" ucapku kepada ibu Ricard yang karna Ricard sedang di kamarnya untuk tukar baju.
"itu semua trofinya Ricard" jawab ibu Ricard.
Lantas aku berpikir alasan mengapa Ricard masuk jurusan sastra. Ternyata dia memang benar-benar ingin menjadi seorang penyair. Hanya sebentar aku ngobrol dengan Ibunya, Ricard sudah keluar dari kabar dengan seragam kerjanya.
"buk aku berangkat kerja yah" Pamit Ricard
"Kamu nggak makan dulu, Lagian Teman kamu belum makan"
"Nggak usahlah bu, nanti bisa makan di warung"
Kemudian Ricard mengajakku untuk bergegas pergi dari rumahnya menuju tempat kerjanya. Ia pamit begitu juga dengan aku.
"Bagaimana setelah kamu tahu rumah ku dil, apa kamu masih mau temanan denganku" tanya Ricard kepadaku.
"Card, berarti selama ini kamu menghalang-halangiku datang kerumahmu karna itu toh" Aku balas dengan senyum
"hmmm"
"Aku tulus temanan denganmu Card, karna kamulah yang sudah membuat bulan menjadi lebih indah sejak kehadirat bintang."

Mendengar itu , Ricard menjadi percaya kepadaku, kami pun makan di warung sebelum aku kembali ke rumah dan dia pergi ke tempat kerjanya. 

EPISODE SEBELUMNYA                                                                           EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Chapter 8



Ternyata dia balik ketampanannya yang suka senyum, Ricard menanggung banyak beban dalam hidupnya.

"Aku mulai suka buat puisi sejak ayahku meninggal. Hatiku tentu sangat terpukul, karna aku yang masih usia remaja saat itu bingung harus bagaimana menjalani hidupku tanpa pemimpin di keluargaku. Aku tidak bisa berdiam diri begitu saja. Lalu aku sering menuangkan kesedihanku di dalam sebuah puisi Dil. Dan aku sangat suka melakukan hal itu karna bisa sedikit melepas semua masalahku".
"Akupun bekerja untuk membiayai uang kuliahku, soalnya kalau hanya mengharapkan penghasilan dari ibuku, aku tidak akan bisa kuliah sampai sekarang."
"kamu hebat yah card" seruku untuk memotivasinya. Karna aku sudah mulai melihat kesedihan yang ada dimata Ricard, aku menyuruhnya untuk membuat puisi. Dia sangat semangat dan kembali tersenyum, padahal banyak penderitaan dibalik senyumnya itu.
Kemudian Ricard mengambil pena dan selembar kertas untuk di tulisnya rangkaian kata-kata indah yaitu puisi. Ia menyuruhku melihat bintang yang pada saat malam itu sangat banyak dan terang. Kesedihannya beransur-ansur pulih menjadi tawa yang lepas. Aku merasa bersalah karna malam itu aku mengingatkannya kepada masalalunya. Di sela-sela dia menulis, aku menganyakan soal chatnya kemarin, untuk memastikan apakah itu benar dia. "ini chat dari kamu yah" sambil memperlihatkan layar handphoneku ke arah Ricard. "iyah, kenapa nggak kamu balas?" pertanyaan kepadaku.
"Aku nggak bisa balas chat orang sembarangan, apa lagi ini nomor baru. Makanya nggak aku balas" .
"oh" jawab Ricard tanpa memperhatikanku karna ia sedang asyik menulis puisinya. Lalu aku menambahkan nomor Ricard di kontakku dan kembali aku perlihatkan layar handphoneku padanya.
"ha.. kok bintangku" Jawab Ricard sambil tersenyum.
Lalu aku menjawab " Aku kan bulanmu, karna kamu bilang kamu adalah bintang, maka aku buat nama kamu menjadi Bintangku"
"hehehe,, " tawanya yang singkat.

Aku berhasil membuat dia semakin terhibur  malam itu. Dan selesai ia membuat puisi, dia memberikan kertas putih berisi syair indahnya itu kepadaku. Lalu aku menolaknya, karna aku ingin dia yang membacakan puisi itu kepadaku. Ternyata, puisinya lebih keren ketika dia yang membacakannya. Nada-nada yang turun naik dan juga suara yang keras dan lembut menyatu menjadi sebuah irama yang bagus untuk sebuah puisi. Mulai malam itu, aku sudah tahu siapa Ricard sebenarnya.

Sejak saat itu pula kami mulai dekat. Hampir setiap hari aku menemani Ricard di toko buku sehabis pulang kuliah. Dia selalu memberikan aku penggalan-penggalan puisi yang indah. Dia juga pernah datang kerumahku untuk mengantarkanku sehabis selesai kerja. Ibuku dan adiku Vino sangat menerimanya. Tiap hari juga, aku membantunya untuk mengerjakan tugas kuliahnya, bukan karna itu aku jadi babu nya, justru karna aku memang niat untuk membantunya. Lagian dia tidak pernah menyuruhku untuk mengerjakan tugasnya, dia selalu melarangku untuk tidak melakukan apapun tentang tugas-tugasnya di kampus. Karna aku tahu dia lelah yah mau tak mau aku harus melakukannya. Aku tahu seberapa besar beban dan tanggung jawab Ricard terhadap ibunya dan untuk masa depannya. Untuk itu tidak salah bila aku bisa sedikit menjadi orang yang memotivasinya mengejar impiannya. 


Kata Ricard hidupnya sangat kesepian dan tidak mau bergaul dengan orang lain sejak kepergian ayahnya untuk selama-lamanya. Dia lebih suka menyendiri dan diam dirumah. Rumahnya adalah tempat dimana dia menciptakan puisi-puisi yang elok. Aku tahu juga siapa saja yang pernah dekat kepada Ricard, tapi setelah tahu latar belakang keluarga Ricard semua wanita-wanita yang dekat samanya pasti akan hilang atau tidak mau bergaul lagi. Itu sebabnya Ricard tidak pernah pacaran dengan siapapun. Padahal dia tampan dan baik. Dia juga mengatakan, kalau hanya aku sejauh ini yang bisa bertahan berteman dengan Ricard setelah mengenalnya lebih dalam. Menurutku sih tidak ada yang salah, selagi ia merupakan orang yang baik-baik ngapain mesti di jauhi. Justru aku sangat senang bisa kenal dengannya. Karna aku selalu menjadi pembaca setia setiap puisinya.

EPISODE SEBELUMNYA                                                                       EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Chapter 7



Kami menikmati film action malam itu, sampai-sampai adikku Vino Sudah tertidur di bangku sofa, mama mengangkatnya ke dalam kamar Vino. Karna melihat adik yang sudah di antar ke kamar, aku masuk ke kamar juga. Lagian malam sudah mulai larut.

Kring... kring.... kring... (Suara Alarm)
Alarmku pun berbunyi menandakan bahwa mentari sudah mulai kelihatan. Aku bergagas untuk merapikan tempat tidurku yang sedikit berantakan. Kemudia mengambil handuk menuju kamar mandi. Setelah selesai semua aku menuju meja makan dimana ada sehelai roti yang aku bawa ke dalam mobil untuk dimakan. Aku berangkat ke kampus seperti biasa di antar oleh pak supir. Setibanya ke kampus aku langsung menuju kelasku. Belum tiba di kelas, Rina sudah memanggilku dari arah perpustakaan.
"Dila, dila... sini." mengajakku masuk ke ruang perpustakaan. "Kenapa Rin??!!" seruku karna penasaran. "Kamu dah siap tugas Manajemen??", "hahhha. kamu mau nyontek yah" tawaku ingin mengejek Rina. "issshh, jangan keras-keras dong, malu kalau di dengar orang" jawabnya dengan sedikit kesal. "yauda, nah.. jangan di salin semua yah, pakai bahasa sendiri juga", "oke" jawabnya dengan simpel. Waktu masih ada setengah jam lagi untuk Rina mengerjakan tugas yang ia salin dari tugasku. Sembari menunggunya mengerjakan tugas, aku mencari buku di rak-rak untuk dibaca. Karna sayang waktu akan sia-sai bila hanya di habiskan dengan percuma dan tidak ada arti. Setidaknya bisa baca sepuluh atau duapuluh halamankan sudah lumayan. Masih lima menit berlalu, Ricard masuk ke dalam ruang perpustakaan, dan aku menyapanya ketika dia melihatku. "heiii" sahutku kepadanya, dia juga membalas sapa yang sama. "Kamu tiap hari meliha buku tidak bosan yah" seruku pada Ricard. "Nggak dong, aku boleh gabung" katanya, "tentu.
Diapun duduk disebelahku sambil cerita mengenai buku. Rina yang asyik menyalin tugasku tidak memperhatikan kami berdua, cuman dia sempat aku lihat menoleh ke arah Ricard sebentar. "Rin, dah sampai mana??!!" , "bentar lagi kok dil". Kemudian aku mengajak Ricard untuk ngobrol soal kecintaannya kepada buku. Ternyata dia hanya suka membaca buku puisi saja. Pantas Ricard pandai merangkai puisi yang begitu indah, pengetahuannya tentang kata-kata yang bagus pasti sudah memenuhi otaknya. Tapi aku bingung, mengapa dia harus bekerja di toko buku itu. Ingin aku tanyakan tapi aku takut pertanyaan itu terlalu mengurusi pribadinya. Padahal ingin tahu lebih dalam tentangnya pria tampan yang jago membuat syair yang elok.
"Dil, kamu nanti siang ke toko buku lagi?" Tanya Ricard kepadaku, "hmmm,, kayaknya hari ini enggak deh.", " ohh, gitu yah". "yauda dil, aku tinggal dulu yah, soalnya aku mau cari buku untuk mata kuliah hari ini", "oh yauda".
Aku melihat dia memilah-milah buku yang ia cari. Entah mengapa aku sangat nyaman memandangnya, terasa dia memang betul-betul adalah bintang yang bercahaya bila ada bulan. Dia sangat Romantis, tapi mengapa dia tidak membahas soal chat yang tadi malam yah, atau karna aku hanya Read chatnya saja. Mungkin dia lupa.

"Dil, ayok ke kelas" ucap wanita yang sedang bersamaku yaitu Rina. "ohh. iyah ayoklah".
Rasanya aku ingin berlama-lama memandang Ricard di ruang perpus itu, tapi aku harus benar-benar masuk kelas, karna mata kuliah sedikit lagi akan dimulai. Kami pun bergegas meninggalkan perputakaan yang hanya ada beberapa orang saja didalamnya. Aku tidak sempat melihat Ricard. Kami memulai mata kuliah hari ini sampai jam pulang. Sangat lelah karna jam kuliah yang benar-benar padat satu harian penuh. Waktu aku tiba dirumah aku langsung tertidur pulas sampai petang. Kemudian aku Mandi dan menukar baju lalu makan malam. Karna jarum jam menunjukan masih pukul setengah delapan, aku terpikirkan soal pertanyaan Ricard mengenai aku ke toko buku hari ini tau tidak. Aku berpikir mungkin ada sesuatu yang mau ia katakan. Lalu aku memutuskan untuk pergi sendirian.
"Ricard, kamu masih kerja" ucapku, "Ia Dil, aku selesai sampai jam sebelas malam nanti". Sontak aku agak bingung dan salut, bingung karna kapan dia ada waktu untuk mengerjakan tugas bila dia tiap hari harus bekerja. Lalu salut karna dia pria yang mandiri. Karna kondisi toko yang lumayan sepi, Ricard punya banyak waktu untuk ngobrol denganku.

"Dil, tadi kamu bilang tidak kemari", "ia itukan kamu nanyaknya siang, aku kan datangnya malam". "hahaha, kamu bisa aja ngeles. Kamipun berbincang-bincang mengenai toko buku tempat ia kerja, tentang mengapa ia suka berpuisi dan mengapa ia harus kerja. Mendengar ceritanya hatiku bercampur aduk, ada sedih, haru dan termotivasi. Ternyata dia balik ketampanannya yang suka senyum, Ricard menanggung banyak beban dalam hidupnya. 


EPISODE SEBELUMNYA                                                                            EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Chapter 6




Apakah bintang itu memang lagi betul-betul kesepian dan bulan tidak pernah mengerti persaan si bintang yang sebenarnya.

Karna aku sedikit kesal kepada Ricard yang tidak sempat mejawab pertanyaanku, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Namun rasa kekesalanku padanya tidak bertahan lama, karna aku juga harus mengerti, bahwa tadi itu dia baru aja sampai di tempat kerja. Tidak seharusnya aku memperlakukannya begitu. Setibanya dirumah, seperti biasa aku langsung masuk ke dalam kamar, mengambil buku untuk mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan minggu depan. Aku memang rajin mengerjakan tugas kampus, karna aku tidak mau merasa terbebani disaat tugas-tugasku menumpuk. Jadi, apa salahnya aku memanfaatkan waktu luangku untuk mengerjakan tugas tersebut. Selesai mengerjakan tugas, aku mengisi buku diaryku tentang perjalanan hari ini. Dimana hari ini tidak ada kesan yang membuatku bahagia. Padahal sebenarnya aku berharap diberikan puisi oleh pria penggoda itu di toko buku tadi. Aku merasa terlalu berharap dan kebanyakan menghayal. Pemikiranku saat itu memang betul-betul buyar dan sedikit pusing. Dan akhirnya aku tertidur siang itu di tempat tidur.
Setalah aku bangun kira-kira pukul empat sore aku mandi untuk mendinginkan pikiranku dan menyegarkan semua tubuhku alias biar wangi. Setelah mandi aku melihat ada chat kontak dari nomor baru. Dan chat itu adalah sepenggalan puisi yang isinya.

Bintang itu adalah aku
yang menantikan bulan
kembali menyinari hidupku

Kemudian aku melihat foto profil si pengirim, ternyata hanya gambar bintang. Lalu aku mulai mengerti dan tahu apa maksud dan tujuan dari chat barusan. Itu adalah jawaban dari pertanyaanku kepada si pria penggoda tadi siang.
"waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" Teriakku yang spontan dan keras membuat ibuku terdengar.
"Dila kamu kenapa"  ucap ibuku yang sedikit panik dari luar kamarku. "tidak apa-apa kok mah, hanya nonton film aja tadi" sahutku. "oh yasudah kalau tidak apa-apa" mamapun pergi meninggalkan kamarku.
Aku benar-benar bahagia saat itu, tapi tidak tahu kenapa. Yang jelas chat itu seperti menghilangkan semua masalah yang ada di benakku selama beberapa hari ini. Sontak wajahku yang agak sedikit murung saat itu langsung ceria kembali, buku diary yang sudah aku tulis tadi berending kebahagiaan. Lalu aku keluar dari pintu kamar karna ini  sudah benar-benar jam makan malam. Aku menuju meja makan yang dimana hanya aku dan adikku Vino yang sudah duduk. Ayahku masih belum pulang kerja, sedangkan ibu baru selesai mandi.
"Ma..." teriakku dari meja makan
"Iyah, makan deluan saja Dil," sahut mamaku dari dalam kamar.

Akupun makan bersama adikku di meja yang sama. Setelah selesai makan, kami nonton di ruang tamu bersama. Dan ditengah film sedang mulai, akhirnya ayah pulang kerja. Ayah langsung pergi ke kamar tanpa melihat kami yang sedang duduk diruang tamu. Hanya ibu yang berbicara dengan ayah saat itu, karna ibu yang menjemput ayah di depan pintu. Aku ngerti situasi seperti itu, pasti ayah sudah sangat kelelahan. Tapi Apakah adikku Vino mengerti itu, dia pasti sangat membutuhkan kasih sayang dari ayah. Apalagi jiwa Vino yang masih remaja yang tergolong masih labil, aku sedikit takut bila kurangnya kasing sayang kedua orang tua dapat menjerumuskan Vino ke hal-hal yang negatif. Tapi aku yakin adikku tidak seperti itu, toh masih ada mama yang selalu perhatian dengan aku dan Vino. Kami menikmati film action malam itu, sampai-sampai adikku Vino Sudah tertidur di bangku sofa, mama mengangkatnya ke dalam kamar Vino. Karna melihat adik yang sudah di antar ke kamar, aku masuk ke kamar juga. Lagian malam sudah mulai larut. 

EPISODE SEBELUMNYA                                                                           EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Chapter 5



Itulah beberapa penggalan puisi yang dia buat. Kalau dipikir-pikir puisinya sangat sedih, karna bulan meninggalkan bintang. Kalau di pikir-pikir lagi, siapa sebenarnya bintang yang membutuhkan cahaya dari bulan tersebut??!!

Selesai aku membaca puisinya, mendengar suara mama yang menyuruhku untuk makan. Akupun langsung bergegas menuju meja makan. Sarapan saat itu terasa nikmat, padahal masakah sederhana yang seperti biasanya. Tapi menurutku, masakan itu memang begitu nikmat, sampai-sampai aku tambah dua porsi. Padahal aku terkenal sebagai orang yang sulit makan dirumah. Tapi entalah, aku merasa seperti belum makan satu bulan. Makanpun sudah selesai aku lanjut membaca buku dikamar. Aku selalu kepikiran dengan wajah senyum si pria penggoda itu saat memandangku. Aku seperti terhipnotis pada saat itu dan sampai detik ini.
Puisi yang dia buat tadi pagi di kampus dan yang tadi siang di toko buku aku simpan baik-baik di buku diaryku. Aku juga menyalin puisinya biar sewaktu-waktu lembaran-lembaran puisi itu hilang, puisinya tidak akan ikut hilang karna sudah tertulis rapi di buku diaryku. Akupun tertidur pulas saat itu. Karna badan yang sudah capek dan letih seharian ada kegiatan dan tak sempat tidur siang. Aku tertidur benar-benar lelap dan seperti dan ada beban sama sekali.

Seminggu telah berlalu di bulan agustus, aku memutuskan untuk pergi ke toko buku. Karna beberapa hari belakangan ini, aku tak pernah melihat Ricard di kampus. Setibanya di toko buku, aku masih belum melihat Ricard. Baik itu didepan pintu gudang buku maupun di meja kasir. Lagian siang itu memang benar-benar padat. Dari pada aku bingung aku langsung tanyakan kepada salah satu karyawan yang ada di kasir tentang keberadaan Ricard.
"Mbak..." seruku..
"Yah .. ada yang bisa saya bantu"... ucap kasir tersebut dengan sopan nan lembut.
"Karyawan yang namanya Ricard tidak bekerja yah Mbak?..."
"cie nyariin aku yah Mbak" Kata Ricard sembari menurunkan tas nya untuk dimasukan ke lobi kerjanya.
Si mbak itu hanya bisa tersenyum melihat aku yang begitu malu. Untuk menutupi rasa maluku pada saat aku pura-pura emosi didepan Ricard dan si Mbak kasir.
"Ricard, apasih.. aku mau nanya hal penting samamu..." Ucapku dengan tegas. Wajah Ricard yang tadinya tertawa nyaris berubah menjadi wajah tegang karna melihat wajahku yang sudah tidak bersahabat. Padahal aku hanya berpura-pura. Lalu aku menarik tangan Ricard yang sudah mulai medekatiku karna melihat aku marah. Aku membawanya ke teras toko buku.
"Ada apa sih Dil" tanya Ricard yang merasa bersalah.
"nggak apa-apa kok,, hehehhe" jawabku dengan canda.
"Yaampun, aku kirain kamu benaran marah samaku" Ucapnya dengan penuh sesal
"Enggak kok, aku hanya malu aja tadi, karna kamu tiba-tiba nongol saat ku tanya ...." Setelah aku mengatakan itu, Ricard memotong pembicaraanku.
"ohh. kamu kenapa nyariin aku." sahut dia.
"AKu mau nanyak tentang puisimu yang bulan dan bintang itu"
"Emangnya kenapa, ada yang salah?"
"nggak aku hanya mau nanyak, Kalau memang aku bulan yang ada di puisimu itu, bintangnya siapa Card?" Tegasku kepadanya.


Tidak hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab pertanyaanku. Dia malam mengatakan kalau dia harus kembali untuk bekerja. Aku sangat kesal karna dia tidak merespon pertanyaanku. AKu betul-betul penasaran siapa bintang yang dimaksudnya itu. Apakah dia tau tentang hubunganku dengan ketua BEM yang setahun lalu. Ada banyak pertanyaan yang terlintas di otakku mengenai bintang yang ia maksud di dalam puisi itu. Apakah bintang itu memang lagi betul-betul kesepian dan bulan tidak pernah mengerti persaan si bintang yang sebenarnya.

EPISODE SEBELUMNYA                                                                            EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Chapter 4



"Nanti ajalah, soalnya aku lagi baca buku ini" seruku kepadanya, supaya dia berhenti memandangku, karna aku betul-betul grogi karna dia terus-terusan melihatku.
"yasuda, aku mau lanjut kerja lagi, aku tinggal yah"

Kemudian aku mengangguk, dan melihat dia mulai masuk ke pintu lagi. Tidak terasa sudalah lewat satu jam aku di toko buku itu, kemudian kembali tanpa pamit pada Ricard. Karna dia memang tidak terlihat setelah itu. Aku balik dan menunggu di halte bis. Aku penasaran melihat puisi yang t'lah dibuatnya untukku tadi. Pelan-pelan aku membuka puisi itu, dan membacanya baris-perbaris, belum sampai satu bait bis ku sudah datang. Karna aku berdiri, jadi aku memutuskan untuk membaca puisinya dirumahku saja. Dalam perjalanan aku selalu terbayang dengan tatapannya yang begitu manis terhadapku. Aku sebenarnya grogi bukan karna takut ia terus melihatku, tetapi karna terlalu romantis bagiku.

Kalau seperti ini, aku jadi ingat mantan pacarku yang selalu membuatkan aku lagu. Mantanku namanya Aris, laki-laki semester enam yang lebih tua satu tahun dariku. Aris merupakan ketua Bem di kampus. Aku bisa kenal denganya ketika kami lagi di ospek sama anggota BEM. Tiba-tiba Aris melihatku dan mengajak aku kenalan. Karna aku masih junior waktu itu, sangat malu rasanya bila kenalan langsung dengan ketua BEM. Makanya aku menolak untuk berkenalan denganya. Tapi entah mengapa dia malah menjadi ngejar-ngejar aku. Padalah aku kira dia sangat marah waktu itu. Setalah aku tanya, dia ternyata suka dengan wanita yang tidak murahan seperti aku katanya. Hanya jalan satu bulan aku langsung jadian sama Aris, dia sangat berbakat dalam bernyanyi dan bermain alat musik. Dan karna itu pula, aku mengakhiri hubungan kami. Karna menurutku dia terlalu sempurna bagiku. Dia adalah seorang ketua BEM kampus yang banyak di sukai wanita lain. Hanya satu bulan usia hubungan kami sebagai status pacaran harus kandas karna para wanita yang mengejar-ngejar Aris. Aku cemburu, dan biar cemburu dan sedih-sedihnya tidak berkepanjangan. Aku mengambil tindakan langsung untuk mengatakan "Aris kita Putus". Aku mutusin dia didepan selingkuhannya di raung BEM. Dia tak mengejar waktu aku pergi dan aku sangat sakit hati. Tapi sakit hatiku hanya hilang satu malam saja, karna hubungan kami masih seumur tanaman kangkung. Jadi, cintaku samanya itu masih hanya sehelai daun kelor.

Akhirnya aku sampai dirumah, pak supir yang kebetulan disitu membukankan pintu untukku. Aku masuk ke rumah dan langsung ke kamarku. Aku meletakan tas dan kertas yang aku pegang ditas meja kecilku. Aku langsung membuka pakaian untuk mandi. Selesai aku mandi aku langsung mengenakan pakaian gantiku dan ketika aku menyisir rambut dicermin. Tiba-tiba aku terpikirkan lagi sama pandangan Ricard yang membuatkan aku puisi. Lalu aku mengambil puisi yang tidak sempat aku baca tadi, kemudian aku baca ulang supaya aku bisa mengerti maknanya.

Bagaimana bulan bisa kelihatan
siang hari begini
Apakah bulan sudah bosan
Untuk menemani bintang di malam hari
Bagimana bulan seindah ini di siang hari
Apa karna dia sedang meminta
tambahan cahaya dari matahari
Bagaimana bulan itu bisa terseyum
padahal bintang tidak ada bersamanya
Apakah mungkin dia sudah lupa
Dengan bintang yang menghiasinya
setiap malam

Itulah beberapa penggalan puisi yang dia buat. Kalau dipikir-pikir puisinya sangat sedih, karna bulan meninggalkan bintang. Kalau di pikir-pikir lagi, siapa sebenarnya bintang yang membutuhkan cahaya dari bulan tersebut??!!


EPISODE SEBELUMNYA                                                                                                                             EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Capter 3



"Wahhh, ini indah sekali ricard" ucapku sembari melihat ricard. Ternyata Ricard sudah pergi entah kemana. Aku melihat-lihat kearah rak-rak buku ternyata dia memang benar-benar tidak ada di perpustakaan. Sejak saat itu aku tersenyum-senyum sendiri membaca puisi dari ricard.

Sehabis jam mata kuliah, aku langsung dijemput oleh supirku. "Dila, kamu langsung pulang" Teman sekelasku. "iyah nih .. Rin nanti kita nyari buku yuk, yang di bilang Pak Irman kemarin" jawabku sembari mengajak Rina. Lalu Rina menjawab ajakkanku "Oh,, kayaknya aku nggak bisa deh hari ini, soalnya aku sama doni mau pergi nonton. hehehe Tadinya kamu mau aku ajak". "Yaelah, masa iya aku jaga nyamuk Rin, yaudalah nggak apa-apa kok, biar aku sendiri" ujarku. "Serius yah nggak apa-apa" kata Rina, Lalu aku mengangguk dan tersenyum. "Yauda lah Rin aku balik yah.. Jawab Rina "Oke, hati-hati", "Sip".

Setibanya dirumah aku menyantap sarapan yang dihidangkan oleh mamaku sendiri. Masakan mama itu masakan paling lezat sedunia menurutku, karna siapapun yang makan pasti akan ketagihan. Sehabis makan, aku tidak tidur siang melainkan mandi dan siap-siap untuk pergi ke toko buku kemarin untuk membeli buku.
Seperti biasa aku pergi sendirian naik bis dan turun di halte tepat aku bertemu Ricard si pria penggoda kemarin . Aku meneruskan langkahku untuk pergi ke toko buku. Kemudian aku mencari buku yang ku butuhkan di rak satu ke rak yang lain. "manajemen... mana....jemen" ucapku dengan suara kecil dan membungkuk mencari buku dibawah rak.

Kemudian seseorang memukul pundakku dan berkata "hei". Suara itu tidak asing bagiku, dan dugaanku benar dia adalah si pria penggoda. Aku kaget kemudian bertanya "Kamu ngapain disini", "Aku memang dari tadi disini" ujarnya. "ia tapi kamu mau nyari buku apa disini" Lanjutku. "Nggak, Aku memang kerja disini". "ha....!! Serius???" Aku sedikit kaget.  "Emangnya aku bercanda.. Inih..!!!" Dia menunjukkan IdCard bahwa dia adalah karyawan toko buku ditempat itu. Karna aku yang masih kaget dan bingung kemudian ia menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku "Kamu sendiri mau nyari buku apa??!!!". "Aku nyari buku .hmm ... Manajemen Informatika." jawabku dengan sedikit gugup. "hooo" sautnya. Kemudian aku bertanya kepadanya " Kalau kamu memang karyawan sini, kenapa aku baru liat kamu sekarang", Lalu Ricard menjawab "aku baru masuk kemarin, dan aku melihatmu juga sedang nyari buku. Pas mau aku datangin eh malah sudah pergi". Kemudian aku mengangguk dan sedikit mengingat-ingat kejadian kemarin. "ho, pantas dia menghampiriku kamarin di halte, dia sudah tahu kalau aku Dila".,Ujarku didalam hati. "oh begitu yah.." ucapku.

Kemudian Ricard menunjukan kepadaku letak rak buku yang aku cari yaitu Manajemen Informatika. Kemudian dia pamit karna ada tugas yang hendak ia kerjakan di gudang buku. "aduh aku lupa bertanya arti puisinya kemarin" ujarku memukul kepala karna lupa menanyakan itu kepada Ricard. Setelah aku menemukan buku yang aku cari dari tadi, aku duduk sebentar di bangku pinggir dinding toko buku., untuk membaca-baca isi dari buku tersebut. Hari itu tidak begitu banyak orang yang ke toko buku, biasanya dihari libur saja toko itu akan ramai. Sehingga tidak perlu mengantri untuk mendapatkan tempat duduk. Masih selang beberapa halaman aku membaca, dari sudut pintu yang mengarah ke gudang Ricard berseru "Masih disini del, kirain dah balik"
"iyah, aku masih harus baca beberapa judul buku ini, sesuai nggak sama yang di bilang dosen kami." Jawabku
Lalu Ricard menhampiriku, dia duduk disebelah bangku yang memang khusus untuk dua orang saja. Jarak kami sangat dekat sehingga tiba-tiba aku jadi grogi untuk menanyakan tentang puisinya.
"Gimana tadi puisinya???,, suka??"
"Ia, aku ...suka" Jawabku dengan sedikit mengangguk..
"Baguslah kalau kamu suka, kalau gitu kamu mau dong jadi bahan puisiku" Serunya kepadaku
"Haaaa..." aku kanget... "Madsudnya jadi bahan puisi gimana?"
Ricard pun menjawab "Aku mau buat puisi lagi, tapi kamu sebagai sumbernya"
"ahh,,.. aku nggak bisa"
"hmm.. udah tenang aja, kamu hanya perlu diam di bangku ini, anggap aja kamu sedang membaca dan tidak ada yang melihat. Oke"..
"hmmm" Ujarnya dengan kembali sedikit menggangguk.
"Ternyata dia selain tampang romantis juga yah" ucapku didalam hati sambil memandangnya.
"oii... kenapa malah ngelamun"
Akupun kaget dan merasa malu karna melamun mandangin Ricard. Lalu aku mengatakan kalau aku tidak apa-apa. Dia pun memulai menulis kata demi kata dan bait demi baik. Sambil menoleh-noleh memandangku. Itu karna aku jadi bahannya. Aku pura-pura acuh tak acuh untuk menghilangkan grogiku, dan mulai membaca serius buku yang sedang aku pegang. Hanya dalam waktu sepuluh menit dia sudah bisa menciptakan puisi sebanyak empat bait gan baris yang begitu banyak.
"ini puisinya dah jadi" merentangkan tangannya dengan selembar kertas putih.
"ohh,, ini untukku"
"ia. kamu bacalah"
"Nanti ajalah, saolnya aku lagi baca buku ini" seruku kepadanya, supaya dia berhenti memandangku, karna aku betul-betul grogi karna dia terus-terusan melihatku.
"yasuda, aku mau lanjut kerja lagi, aku tinggal yah"

EPISODE SEBELUMNYA                                                                            EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Chapter 2



Setibanya dirumah, aku langsung mengeluarkan buku yang baru saja ku beli di toko buku. Hanya karna membeli buku itu, aku hampir saja di apa-apain sama orang. Namun aku berpikir lagi, kalau memang orang itu jahat, mengapa dia diam-diam saja. Bahkan sapaannya sangat lembut terdengarku. "yaampun ngapain sih aku mikirin dia, sudah untung aku selamat" ucapku dalam hati. Karna sudah lelah mencari buku satu harian ,Lalu aku tertidur pulas malam itu.

Matahari telah menampakan cahayanya kembali, akupun bergegas bangkit dari tempat tidurku untuk mandi. Sehabis mandi aku mengenakan baju yang layak untuk ke kampus, kemudian mengambil sehelai roti diatas meja.  Supir sudah siap menunggu di teras untuk mengatar aku ke kampus. Sehelai roti yang belum sempat aku hambiskan, aku lanjutkan memakannya di dalam mobil. Melihat padatnya volume kendaraan di kota ini, macet setiap hari sudah biasa bagi kami. Yang seharusnya waktu yang diperlukan untuk pergi ke kampus dari rumahku adalah limabelas menit, menjadi setengah jam setiap harinya.

Setibanya di kampus, aku langsung masuk ke kelas. Aku dan teman-temanku berbincang-bincang mengenai mata kuliah hari ini. Dosenpun masuk dan kami memulai pelajaran. Hari itu ada dua jadwal mata kuliah, jam pertama pagi pukul delapan ke setengah sepuluh dan lanjut ke pukul sebelas sampai pukul satu siang. Jadi akan ada waktu kosong setiap hari rabu, dan aku lebih sering meluangkan waktu kosong tersebut untuk membaca buku ke perpus.
"Dila" (Nama panggilanku),
"Yah" sahutku sembari melihat ke arahnya, "ada apa Ricard"
"Aku boleh duduk disini" Katanya, "oo.boleh..hmm" Jawabku sedikit grogi.
"Kamu ngapain kemarin di halte sampai tengah malam" Sambung Ricard
Aku langsung berpikir dan "ohh.. jadi kamu yah yang kemarin nyapa aku itu", Ia tersenyum separuh. Dan " Sorry yah, aku kemarin kurang jelas sama wajahmu soalnya gelap" lanjutku.
"Hahaha" Dia tertawa, dan aku tidak tau apa madsud tawanya. Sehingga aku menanyakan padanya mengapa dia tertawa, Lalu dia mengatakan "Kamu kelihatan takut kemarin", dan aku tertawa malu. Ternyata orang yang aku pikir penggoda itu ternyata Ricard si tampan lucu satu angkatanku. Tapi aku masih kepikiran dengan ucapannya yang mengatakan bahwa aku adalah bulan. Karna penasaranku langsung aku menanyakan padanya maksud dari pernyataannya itu padaku.
"Ricard" ,,.. Lalu ia menoleh kepadaku ketika sedang membaca bukunya..
"hmmm, maksud kamu bilang aku adalah bulan kemarin apa".. Ricard tertawa lagi saat aku menanyakan itu kepadanya, apakah ada yang salah dengan pertanyaanku itu. "Dasar aneh ni cowok, tampan-tampan tapi aneh" Ucapku dalam hati.

Ricard pun menjawab pertanyaanku karna melihat wajahku yang sudah mulai kesal dengan sikapnya. "iyah, jadi kemarin itukan bintang tak bercahaya, jadi kamu adalah bulannya yang membuat cahaya bintang itu jadi ada". Ketika dia mengatakan itu, yang langsung aku pikirkan adalah  mengapa aku yang harus jadi bulan, dan siapa bintang yang sudah aku beri cahaya tersebut !!!!.

Supaya tidak penasaran , aku melanjutkan bertanya padanya "emangnya bintang yang bercahaya itu siapa". Dia terdiam dengan senyum tipis ke arahku. Dan dia memberikan aku selembar kertas putih yang berisikan bait-bait dengan kata-kata indah yang disebut puisi. Kemudian aku membaca puisi tersebut.

Malam ini aku tidak bercahaya
Karna bulan tidak ada
Malam ini aku benar-benar butuh cahaya
Untuk menerangi malam yang gelap
Tapi disudut sana, aku melihat ada bulan
Yang siap untuk memberi cahaya padaku
Lalu aku mendekatinya, supaya aku bisa
bercahaya lagi


"Wahhh, ini indah sekali ricard" ucapku sembari melihat ricard. Ternyata Ricard sudah pergi entah kemana. Aku melihat-lihat kearah rak-rak buku ternyata dia memang benar-benar tidak ada di perpustakaan. Sejak saat itu aku tersenyum-senyum sendiri membaca puisi dari ricard.

EPISODE SEBELUMNYA                                                                            EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Chapter 1



Bulan ini adalah bulan penuh arti bagiku yaitu bulan Agustus. Bulan dimana aku menemukan bintang yang tidak pernah berhenti meminta cahaya dari bulan tersebut. Karna bintang itu tidak akan kelihatan tanpa cahayanya. Bulan Agustus merupakan bulan dimana puncak terakhirnya bintang yang selalu tampak setiap malamnya. Karna setelah itu, malam akan selalu gelap tanpa cahaya. Yang artinya musim hujan akan masuk setelah bulan ini.  Aku sangat menikmati cahaya bintang yang selalu menemani sebelum aku terlelap oleh dinginnya tiupan angin malam yang masuk ke jendelaku.

Dan aku akan terbangun setiap paginya dengan cahaya mentari pagi yang mulai menyinari alam semesta. Seperti biasanya bintangku akan selalu memberikan cahayanya meski ia sudah tidak tampak tapi aku selalu bisa merasakan kehadiratnya setiap saat. Karna bintangku adalah Dia.

Dia adalah cahaya yang tidak pernah lupa untuk menerangi hatiku yang gelap. Dia seperti bintang yang dua puluh empat jam selalu menemaniku. Namanya Ricard, pria tampan yang sedikit lugu tapi pintar berpuisi. Dia adalah orang yang tidak pernah lupa mengucapkan selamat pagi padaku, dan selamat tidur ketika malam mulai larut.

Bagiku dia adalah bintang jatuh yang dikirimkan Tuhan, dan aku tangkap dengan hati yang terbuka.  Dia adalah bintang berharga yang tidak terbelikan dengan apapun, meskipun itu diganti sepuluh kali lipat dari bintang yang lebih indah darinya. Dia adalah pria tampan yang langka karna jago berpuisi. Setiap malam pasti aku akan membacakan bait tiap bait syair puisinya untuk menemani tidurku. Kadang juga ia mengirimkan rekaman puisi yang dibacakannya sendiri untukku.

Dan karna itulah aku sangat berterimakasih kepada Tuhan atas titipannya yang sangat mengubah hidupku menjadi warna-warni. Aku tak pernah lupa untuk beryukur untuk semua pemberian-Nya untukku.Aku bertemu ricard ketika malam pertama di bulan agustus. Malam itu bulan tidak kelihatan karna tertutup oleh awan tebal, sehingga bintang ikut tak terlihat. Jadi, bisa terbayang bagaimana sunyinya malam tanpa cahaya. Tetapi, entah darimana Ricard datang menghampiriku dengan jaket hitam yang ia kenakan. Ricard menyapaku dengan kata singkat "haii" dan aku terkejut karna pikirku dia pria penggoda. Karna aku terdiam dan sedikit mengarah kepadanya, tiba-tiba ia mengatakan bahwa aku adalah bulannya. Aku mulai berpikir kalau dia adalah benar-benar pria penggoda. Aku sedikit menghindar darinya lalu ia menatap ke arah ku. Aku sangat takut, karna sudah tidak ada orang lain yang menunggu bis di halte itu selain Aku dan dia.Aku sudah bersiap-siap untuk teriak sekencang-kencangnya bila dia hendak menyentuhku. Dan akhirnya bis yang mengarah ke rumahku datang dan berhenti di halte pemberhentian. Aku naik sembari melirik kepadanya, tapi dia masih saja melihatku. Ketika aku naik, dia hanya berdiam diri di halte sambil melihatku. Bis itu pun mulai menaikan gasnya yang artinya bis akan berangkat. Namun pria penggoda itu tetap saja berdiam dihalte tersebut.

Setibanya dirumah, aku langsung mengeluarkan buku yang baru saja ku beli di toko buku. Hanya karna membeli buku itu, aku hampir saja di apa-apain sama orang. Namun aku berpikir lagi, kalau memang orang itu jahat, mengapa dia diam-diam saja. Bahkan sapaannya sangat lembut terdengarku. "yaampun ngapain sih aku mikirin dia, sudah untung aku selamat" ucapku dalam hati. Karna sudah lelah mencari buku satu harian ,Lalu aku tertidur pulas malam itu.


                   EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Selasa, 31 Juli 2018

Perkenalkan "AKU" - KAMU part #1


Tak terasa sudah tiga bulan lebih aku makan tidur dirumah dan hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah kembali. Pasti akan sangat membosankan,  karna aku sekarang sudah mengenakan putih abu-abu. Sepertinya lebih asyik dengan putih biru dimana ada banyak teman-teman yang sudah dekat padaku.

Tapi sekarang aku harus belajar menerima kenyataan hidup dimana setiap orang pasti akan bertumbuh dan belajar menjadi orang yang mandiri. Aku melanjutkan pendidikan mengena atas di sekolah favorit orang tuaku, bukan favoritku !!!.  Agak kesal sihh, tapi mau gimana lagi. Aku lebih suka nurut kepada orang tua dari pada mengikuti keinginanku sendiri, karna aku takut jadi anak yang durhaka kepada orang tua, bisa-bisa aku di kutuk jadi batu. hehehhe.

Mungkin aku telat mengatakan hal ini, tapi memang harus aku katakan biar kamu semua kenal siapa aku, namu adalah Eldi. Aku adalah anak tunggal , jadi kamu pasti tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak memiliki saudara di rumah "Sangat Sepi". Itu sebabnya kedua orangtuaku memberikan aku fasilitas seperti motor, handphone, dan komputer supaya akan tidak kesepian dirumah ketika mereka pergi kerja keluar kota. 

Andaikan benda-benda itu tidak ada, mungkin aku bisa mati kesepian dirumah.

Sekarang aku harus berangkat sekolah menggunakan motor, karna jaraknya lebih jauh dari rumah, dan mudah-mudahan ada banyak kawan satu kelasku dulu melanjut disitu. Tapi itu sepertinya mustahil, karna sekolahku itu terkenal sekolah elite dan biaya sangat mahal. Bukan aku merendahkan teman-temanku bahwa mereka semua tidak mampu, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Dan itulah salah satu alasan mengapa aku tidak mau sekolah di sekolah pilihan orangtuaku, tapi mau gimana lagi, aku takut dikutuk jadi batu.

Aku pun berangkat dari rumah, dan berpamitan kepada pembantu rumahku, karna hanya dialah orang yang lebih sering menemaniku makan pagi , karna orang tuaku jarang dirumah seperti yang aku katakan tadi. Tapi aku tidak seperti anak biasanya kok, yang menjadi frustasi karna kekurangan kasih sayang orang tuanya, aku mah beda, sebab justru orang tuaku tidak pernah lupa mengingatkanku untuk bangun, makan pagi/malam setiap harinya meskipun melalui via telepon. Jadi aku yakin meraka sangat sayang kepadaku.

Setibanya aku disekolah, semua murid baru disuruh baris oleh senior atau kakak kelas. Aku tau apa yang akan terjadi, kami pasti akan di jemur di panasan beberapa hari kedepan. Dan itu pun terjadi. 

 Kisahku diawali di hari terakhir kami di ospek oleh senior. Dan beginilah ceritanya :

Teeeeeett...teeeettt (Bell Pulang)

Eldi : hei... ini pitamu...!!!
Nela  :ohhh iya...

Nela adalah siswi satu groupku saat ospek, dia cantik, manis tapi ... nanti kamu akan tahu..

Eldi : makasih yah, kalau tidak ada kamu mungkin aku akan di hukum tadi sama senior !!
Nela : ia.. sama-sama (Cuek)
Eldi : kamu balik sama siapa?!!
Nela : Aku di jemput..
Eldi : hooo.. 
Nela : emang kenapa ...? (Penasaran tapi cuek)
Eldi : gapapa kok.. hanya nanyak doang (Wajah Tegang)
Nela : yauda, ayahku sudah menjemput tuh, aku pergi yah
Nah sekarang kamu tahu kan,, Nela itu seperti apa. Dia cuek dan sangat tertutup. Senyum saja tak pernah ku liat..

Eldi : oke.. bye

Nelapun tidak membalas sapaku dan pergi membawa pita yang sudah aku kembalikan.

Aku pun balik dan bersama teman baruku namanya Valdo. Dia orangnya keren dan sama seperti Nela yang cuek dan tertutup, tapi entah mengapa Valdo merasa cocok berteman samaku, Padahal aku orangnya agak bising. Satu lagi tentang Valdo, dia disukai banyak cewek selama ospek, bahkan satu-persatu kami membaca surat-surat yang di tulis wanita-wanita yang suka sama Valdo, tapi Valdo mah tetap cuek dan tidak peduli.

Karna ini hari sabtu, aku nginap di tempat Valdo teman baruku. Ayah dan ibunya menerimaku dengan baik, bahkan menyuruhku untuk sering-sering main dirumahnya. Valdo adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Dia sama sepertiku yang selalu kesepian dirumah, karna kakak-kakaknya sudah kuliah di luar negeri. Bedanya dia punya saudara tapi aku tidak. 

Dirumah ternyata Valdo tidak terlalu cuek dan pendiam, tapi aku bingung kenapa dia bisa cuek saat disekolah. Karakternya sangat berbeda tapi yasudahlah. Yang jelas aku senang berteman samanya karna dia Keren dan pintar juga. 

Valdo : di.. kita main game yokkk...
Eldi : oke...
Ayah Valdo : Makanannya dihabiskan dulu, baru main game..
Valdo : iyah pa...

Selesai makan kami pun bermain game bersama, dan tidak terasa sudah tengah malam, kami menyudahi bermain game dan tidur. 

kring.. kringg. kring... (suara panggilan handphoneku)

Eldi : Hallo Ma...
Mama Eldi : Kamu dimana Nakkk...??
Eldi : Aku dirumah temanku Ma..
Mama Eldi : Kenapa kamu tidak ngabarin mama kalau mau ke rumah teman??
Eldi : Emang bibi tidak ngasih tau yah Ma??!!
Mama Eldi : Udah, cuman mama kwatir sama kamu,, 
Eldi : Aku gak apa apa kok Ma.. 
Mama Eldi : Yaudah,, Mama sama Papa lagi dirumah nih,, 
Eldi : Serius Ma?? (Wajah senang)
Mama Eldi : Iyah.. cepat lah kemari
Eldi : oke Ma, aku pulang... ( Bahagia)
Mama Eldi : Hati-hati dijalan yah..
Eldi : Oke Ma...

Setelah handphonenya aku tutup, aku langsung membangunkan Valdo dan pamit untuk pulang, Lalu Mama Valdo menahanku untuk sarapan pagi sejenak, Akupun menolak dengan alasan karna orangtuaku sedang menungguku dirumah padahal karna kau sangat-sangat merindukan kedua orangtuaku. Merekapun mengerti dan aku pulang.

Tanpa membilas wajah yang baru bangun , aku bergegas menyalakan motorku dan diperjalanan tidak sengaja aku melihat seseorang yang sedang berjualan kue di lampu merah, dan Aku merasa sangat familiar dengan wajahnya...

Eldi : Mbak,.....
Mbak Jual Kue : Yah dekk.... ( Membalikan wajahnya ke arahku)
Eldi : Kamu...........


                                                                         BERSAMBUNG
            
                                    

                                                                                                                   

Baca selengkapnya

Senin, 19 Februari 2018

Pertemuan Singkat


Aku memiliki teman yang lumayan cerdik tapi fisiknya lemah, manis tapi tidak tampan.
Dia adalah orang yang tidak mudah jatuh cinta tetapi ia percaya dengan cinta pandangan pertama.
Aku mulai yakin hal itu, ketika aku dan dia lagi  ke satu Gereja . Saat itu aku memperhatikan dirinya yang sedang

memperhatikan salah satu Gadis cantik yang duduk tepat dipinggir jendela gereja. Pandangannya terasa beda kepada Gadis

tersebut. Ternyata betul, ia telah terpikat dengan gadis itu. Katanya Gadis yang duduk disebelah gereja itu beda dengan wanita

lain ( itu sih kata-kata klasik yang sering dikatakan orang-orang yang sedang jatuh cinta).
Tak terasa kebaktian gereja hampir selasai dan temanku bilang, ia ingin sekali bisa kenalan langsung dengan gadis tersebut,

namun apa daya, keberanian tidak ada padanya. Dirinya hanya bisa melihat dari kejauhan saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan

akhirnya kebaktian selesai, dan aku yakin yang ia rasa saat itu pasti gelisah dan ingin menyesal karna telah menyia-nyiakan

kesempatan yang hanya beberapa jam.

Semua orang pun berpulangan dan Temanku kehilangan gadis tersebut. Dia mencari-cari gadis tersebut sedangkan aku hanya

bisa menunggu ia di motor karna aku tidak ingin berurusan sama sekali. Ternyata Ia balik tanpa mendapatkan hasil apa-apa,

Gadis itu hilang bagaikan api yang disiram langsung hangus. Temanku kecewa dan menyesal, karena belum sempat mengetahui

namanya. Pertemuan itu sangat singkat dan tak berarti apa-apa. Setelah menunggu beberapa menit dan suasana parkir gereja

yang semakin sepi, Aku dan Dia pulang dengan mengendarai sepeda motor. Aku langsung meminta kunci motor dan kami

pulang. Tidak jauh dari gereja, diperjalanan kami jumpa dengan Gadis itu, ternyata dia naik motor dengan seorang Gadis

didepannya. Ternyata Temanku sangat mengenali Gadis yang membawanya tersebut.

Perkenalanpun berlangsung dari atas motor , Tanpa rasa takut temanku menanyakan namanya kepada Gadis yang membawa

motor tersebut, tidak secara langsung dengan perempuan yang ia bonceng. Merekapun saling berbincang-bincang dan aku tetap

fokus membawa motor agar tidak jatuh. Selesai mereka kenalan kami pisah arah dengan gadis itu, dan setibanya dirumah entah

mengapa temanku itu senyum-senyum sendiri. Dia sangat senang karna bertemu gadis manis disebuah gereja meski hanya

dengan beberapa jam bertemu. Namun baginya itu merupakan pertemuan yang membahagiakan dirinya.
Baca selengkapnya

Rabu, 07 Februari 2018

Kehilangan Satu Motivator

Tepat terjadinya gerhana bulan yang indah tanggal 31-01-2018 yang hanya terjadi 150 tahun sekali. Disaat itu juga aku kehilangan sosok motivator dalam hidup sejak aku kecil. Meski dia bukanlah orang tuaku tetapi dia yang melahirkan Ayahku, yah dia adalah seorang nenek yang sangat kuat,tegar dan lemah lembut. Aku begitu dekat dengannya hampir 17 tahun dia bersamaku.



Meski dia hanya seorang nenek dalam keluargaku, bukan berarti tidak ada kisah yang pernah ku lalui bersamanya. Bahkan sangat banyak kenangan indah yang pernah aku lakukan bersama nenek kami tercinta.

Seperti yang aku katakan tadi, bahwa nenek adalah wanita kuat, itu benar. Ia tidak mau menyusahkan orang banyak untuk membeli sesuatu yang Ia inginkan. Meskipun itu murah harganya. Nenek selalu mencari cara untuk mendapatkan pundi-pundi uang setiap usahanya. Meski umurnya sudah lanjut usia atau bisa dikatakan secara fisik sangatlah lemah, tapi itu semua Ia patahkan. Seoalah olah Ia menjadi wanita hebat tanpa ada penderitaan dalam hidupnya.

Dulu dia pernah membuat tikar, sapu lidi untuk Ia jual. Nenek sangat kreatif, tapi sayang ilmunya mungkin belum ada yang bisa kami terapkan. Nenek juga dulu pintar masak, aku sangat suka masakan ikan dan sayur buatannya. Memakan masakan nenek rasanya seperti masakan tahun 50-an dulu atau masakan yang tidak pernah aku cicipi.

Namun dibalik kegigihannya tersebut, Nenek diserang macam-macam penyakit. Mulai dari pening-pening, sesak napas, kulit yang gatal-gatal dan rabutnyapun mulai memutih. Dibalik itu banyak sekali kenangan yang tak pernah aku lupakan. Mulai dari aku mengantar nenek ke rumah sakit, mijat kepalanya meski aku tak pandai, dan juga mencabut uban nenek.

Aku juga ingat, ketika pergi untuk melanjutkan pendidikanku di Kota. Ia menangis, Karena Ia takut aku tidak akan melihatnya ketika azalnya nanti t'lah tiba. Namun sebaliknya aku berpikir bahwa nenek dan orangtuaku akan baik-baik saja disini.

Setelah beberapa bulan aku di Kota, sering kali aku menelpon mereka, meski ketika aku berbicara dengan nenek tapi ia tidak dengar, ada adikku atau ayahku disana yang memberitahukan kepadanya apa yang aku katakan. Aku selalu memberikan salam kepada Nenek dan juga menanyakan bagaimana keadaannya. Terkadang aku menangis mendengar suara rentanya itu. Seolah-olah aku ingin pulang dan melihat bagaimana kedaan mereka secara langsung.

Disaat beberapa bulan lagi aku ingin pulang kampung, ada masalah di tempat orangtua dan nenekku tinggal, mereka pergi dari situ dan nenek dibawak ke rumah saudara ayah yang jauh dan takpernah aku injaki seumur hidupku. Tentu kesedihan dan kerinduan semakin mendalam. Karena saat aku pulang kampung aku tidak ada waktu untuk ke tempat nenekku tercinta saat itu. Hanya ke tempat orangtuaku yang baru yang bisa aku kunjungi karena aku memang terbatas oleh waktu libur.

Dan akupun balik ke tempat dimana aku melanjutkan pendidikanku. Disana aku selalu memikirkan bagaimana keadaan nenek sekarang. Akhirnya berjalan setahun aku di Kota perantauan yang berarti sudah setahun aku tidak berjumpa dengan nenek. Lalu akan memberanikan diri untuk pergi ketempat nenek sendirian, meski libur yang hanya beberapa hari.

Pada akhirnyapun aku sangat senang bisa berjumpa dengannya meski pertama kali aku sampai, nenek sama sekali tidak mengenaliku. Ia menangis dan akupun terikut suasana saat itu. Aku melihat tubuhnya bukan seperti yang dulu, ia semakin kurus kering, dimana-mana ada luka gigitan nyamuk dibadannya. Rasanya aku ingin membawa nenek pergi saat itu dari tempat tersebut. Namun apa dayaku, aku hanya seorang cucuk yang belum memiliki tanggung jawab untuk mengurus nenek.
Waktukupun untuk pulang ke tampat perantauan telah tiba, rasanya begitu berat untuk melangkah pergi meninggalkan nenek. Tapi ternyata,  itulah saat terakhirku melihat nenek bernafas.
Selang beberapa bulan, aku ditelpon dari tempat dimana nenekku tinggal, kata mereka bahwa nenek ingin juga dengan kami anak-anak dan cucu-cucunya. Namun satu orangpun tak ada yang menjumpainya, apalagi aku yang sedang terikat dipekerjaanku. Hanya dua hari setelah aku mendengar suara nenek yang terakhir kalinya, ada kabar bahwa ia meninggal tempat pukul 21:00 WIB.

Betapa terpukulnya hatiku mendengar itu, betapa aku sangat menyalahkan diriku sendiri, aku menangis dengan penuh penyesalan. Ternyata nenek sudah tidak ada untuk selama-lamanya. Nenek sudah sembuh dari penyakitnya, ia sudah tidak menderita lagi. Semoga nenek di terima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Aku sayang nenek, kami cinta nenek. Salam dari cucumu nek :'( . Semua nasehatmu akan selalu aku pegang dan aku laksanakan.

Baca selengkapnya

Rabu, 31 Januari 2018

Hanya Hayalan

Tidak terasa bus sudah dari arah selatan menuju sekolah, kami naik dengan antrian yang tidak begitu panjang. Aku duduk memandang sebelah kaca, melihat pemandangan kota yang begitu macet disaat jam kerja. Polusi sudah seperti pengganti oksigen di kota yang besar yang sangat padat. Bus pun berhenti di halte selanjutnya, para pelajar pelajar lain naik untuk menuju arah yang sama dengan kami.


Kamipun tiba disekolah, turun satu persatu dari bus karena antrian saat turun sangat padat tidak sengaja aku terdorong kedepan hingga mengenai wanita paling ganas di kelas "plakkk" (Bunyi tamparan). Bergegas aku minta maaf padanya.
Darisitu aku jadi tahu seberapa galak wanita itu, ternyata lebih seram dari yang aku bayangkan, itu tamparan pertama dari dia padaku. Kamipun masuk menuju kelas dah seleng beberapa menit bell baris telah berbunyi. Selesai baris kami bergegas  kembali menuju kelas untuk melakukan kegiatan belajar seperti hari-hari sebelumnya.
Setelah semua murid sudah masuk dan siap untuk belajar, guru yang mengajar kami masuk dan dia tidak sendiri. Ia masuk bersama murid yang tidak aku kenal sama sekali bahkan teman-temankupun begitu.
 "Selamat pagi murid-murid ini adalah teman baru kalian" 

begitu dialog singkat yang aku dengar dari guruku. Kami hanya menatap ke satu arah yaitu murid baru yang sangat manis dan putih bersih tersebut. Selesai guru berbicara, Akhirnya yang kami tunggu-tunggu tiba yaitu mendengarkan murid baru itu berbicara. Ternyata suara gadis itu sangatlah lembut dan pasti pandai bernyanyi begitu perkiraanku. Selasai ia perkenalan diri, guru pun memberikan kami kesempatan untuk menanyakan sesuai kepadanya. Selama ia masuk didalam kelas, tidak pernah pandangannya menuju kepadaku, lantas karena kau ingin ia melihatku, akupun ingin bertanya tentangnya. Ketika guru mengatakan 
"siapa yang ingin bertanya angkat tangan" 
dengan spontan telingaku mendengarnya lalu tanganku terangkat sendirinya. Dalam hatiku "Yes, dia pasti melihatku", hanya hitungan detik guru dan ia melihatku dan aku di tunjuk guru untuk memberikan pertanyaan. lalu ketika mataku dan mata murid baru saling bertatapan, mulutku seolah-olah di rantai sehingga tidak bisa terbuka, telingaku seperti di tutup sehingga tak mendengar suara-suara didalam kelas, Kepalaku seperti baru saja terbentur sehingga ingatanku hilang begitu saja. Aku terdiam melihatnya begitu juga denganya yang sudah siap ingin mendengar pertanyaanku, lalu guru memanggilku 
"Jack, ayo bertanyalah, waktu berjalan terus, nanti kita sempat belajar" ,
 mendengar ucapan guru seperti itu ingin rasanya aku berbicara "memang itulah yang kami mau buk.hehehe" tawaku didalam hati, mungkin teman-teman sekelas juga begitu tanggapannya. Aku pun berkata "maaf buk, aku lupa sama pertanyaanku", mendengar itu hampir semua yang didalam kelas mentertawakanku begitu juga dengan murid baru itu, ia tersenyum dengan begitu indah dan manis. Lalu guru memberikan kesempatan lainnya kepada teman-temanku dikelas untuk bertanya. Dari situ aku hanya terdiam saja menatap wanita itu, tak ada satupun pertanyaan dari teman-temanku yang aku dengar, apalagi masuk di pikiranku, karena hanya murid baru itu saja yang selalu melintas di benakku.
Rasanya aku ingin mengambil pulpen dan kertas untuk menulis puisi indah untuknya, namun apa daya, tangan ini begitu malas begerak sekalipun pulpen dan bukunya ada didepanku. Entah apa yang ada didalam matanya, kalau menurut pelajaran biologi pasti ada retina didalam bola mata, tapi ini berbeda seperti ada mutiara yang menarik aku ingin selalu melihat bola matanya.
Tidak terasa aku dikejutkan oleh bell istirahat yang artinya untuk pelajaran fisika tidak belajar hari ini. Sorak sorak dari teman-teman
 "Yeee,Yeee,Yeee" 
kami memberi salam kepada guru dan murid baru itu bergegas duduk dibangku kosong di depan mejaku. Betapa senang hatiku ketika jarak kami tidak kurang dari satu meter saja, itu sangat dekat dan sangat sangat dekat.
Dengan penuh keberanian aku ingin berkelan denganya, ingin merasakan bagaimana lembut dan halus telapak tangannya. Meskipun yang disebelahnya adalah wanita galak yang menamparku tadi pagi dibus. Dengan penuh keberanian, aku berdiri dari tempat dudukku melangkah cepat menuju kedapan untuk berkenalan dengannya karna kalau dari belakang tidak sopan kata orang. Aku mulai melangkah cepat, namun tiba-tiba ada kaki yang sengaja menabrak kakiku sehingga aku terjatuh dan kembali menabrak wanita galak tersebut dan "Plakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk" aku terbangun karna aku jatuh dari tempat tidurku. Kataku 
"Ternyata hanya mimpi"
Kemudian aku bersiap-siap untuk pergi kesekolah, dipemberhentian bus aku cerita kepada temanku tentang mimpiku, namun dia hanya tertawa mendengarnya, buspun datang menjemput dan aku masih memikirkan mimpi itu dan berharap bisa jadi kenyataan. Setibanya di kelas dan lonceng baris telah selesai gurupun masuk ternyata sendirian. Aku kecewa ternyata itu hanya mimpi dan murid baru itu hanya hayalan. Kamipun belajar seperti biasa.

Baca selengkapnya