"Wahhh, ini indah sekali ricard" ucapku sembari melihat ricard.
Ternyata Ricard sudah pergi entah kemana. Aku melihat-lihat kearah rak-rak buku
ternyata dia memang benar-benar tidak ada di perpustakaan. Sejak saat itu aku
tersenyum-senyum sendiri membaca puisi dari ricard.
Sehabis jam mata kuliah, aku langsung dijemput oleh supirku. "Dila,
kamu langsung pulang" Teman sekelasku. "iyah nih .. Rin nanti kita
nyari buku yuk, yang di bilang Pak Irman kemarin" jawabku sembari mengajak
Rina. Lalu Rina menjawab ajakkanku "Oh,, kayaknya aku nggak bisa deh hari
ini, soalnya aku sama doni mau pergi nonton. hehehe Tadinya kamu mau aku
ajak". "Yaelah, masa iya aku jaga nyamuk Rin, yaudalah nggak apa-apa
kok, biar aku sendiri" ujarku. "Serius yah nggak apa-apa" kata
Rina, Lalu aku mengangguk dan tersenyum. "Yauda lah Rin aku balik yah..
Jawab Rina "Oke, hati-hati", "Sip".
Setibanya dirumah aku menyantap sarapan yang dihidangkan oleh mamaku
sendiri. Masakan mama itu masakan paling lezat sedunia menurutku, karna
siapapun yang makan pasti akan ketagihan. Sehabis makan, aku tidak tidur siang
melainkan mandi dan siap-siap untuk pergi ke toko buku kemarin untuk membeli
buku.
Seperti biasa aku pergi sendirian naik bis dan turun di halte tepat aku
bertemu Ricard si pria penggoda kemarin . Aku meneruskan langkahku untuk pergi
ke toko buku. Kemudian aku mencari buku yang ku butuhkan di rak satu ke rak
yang lain. "manajemen... mana....jemen" ucapku dengan suara kecil dan
membungkuk mencari buku dibawah rak.
Kemudian seseorang memukul pundakku dan berkata "hei". Suara itu
tidak asing bagiku, dan dugaanku benar dia adalah si pria penggoda. Aku kaget
kemudian bertanya "Kamu ngapain disini", "Aku memang dari tadi
disini" ujarnya. "ia tapi kamu mau nyari buku apa disini"
Lanjutku. "Nggak, Aku memang kerja disini". "ha....!!
Serius???" Aku sedikit kaget.
"Emangnya aku bercanda.. Inih..!!!" Dia menunjukkan IdCard
bahwa dia adalah karyawan toko buku ditempat itu. Karna aku yang masih kaget
dan bingung kemudian ia menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku "Kamu
sendiri mau nyari buku apa??!!!". "Aku nyari buku .hmm ... Manajemen
Informatika." jawabku dengan sedikit gugup. "hooo" sautnya.
Kemudian aku bertanya kepadanya " Kalau kamu memang karyawan sini, kenapa
aku baru liat kamu sekarang", Lalu Ricard menjawab "aku baru masuk
kemarin, dan aku melihatmu juga sedang nyari buku. Pas mau aku datangin eh
malah sudah pergi". Kemudian aku mengangguk dan sedikit mengingat-ingat
kejadian kemarin. "ho, pantas dia menghampiriku kamarin di halte, dia
sudah tahu kalau aku Dila".,Ujarku didalam hati. "oh begitu
yah.." ucapku.
Kemudian Ricard menunjukan kepadaku letak rak buku yang aku cari yaitu
Manajemen Informatika. Kemudian dia pamit karna ada tugas yang hendak ia
kerjakan di gudang buku. "aduh aku lupa bertanya arti puisinya
kemarin" ujarku memukul kepala karna lupa menanyakan itu kepada Ricard.
Setelah aku menemukan buku yang aku cari dari tadi, aku duduk sebentar di
bangku pinggir dinding toko buku., untuk membaca-baca isi dari buku tersebut.
Hari itu tidak begitu banyak orang yang ke toko buku, biasanya dihari libur
saja toko itu akan ramai. Sehingga tidak perlu mengantri untuk mendapatkan
tempat duduk. Masih selang beberapa halaman aku membaca, dari sudut pintu yang
mengarah ke gudang Ricard berseru "Masih disini del, kirain dah
balik"
"iyah, aku masih harus baca beberapa judul buku ini, sesuai nggak sama
yang di bilang dosen kami." Jawabku
Lalu Ricard menhampiriku, dia duduk disebelah bangku yang memang khusus
untuk dua orang saja. Jarak kami sangat dekat sehingga tiba-tiba aku jadi grogi
untuk menanyakan tentang puisinya.
"Gimana tadi puisinya???,, suka??"
"Ia, aku ...suka" Jawabku dengan sedikit mengangguk..
"Baguslah kalau kamu suka, kalau gitu kamu mau dong jadi bahan
puisiku" Serunya kepadaku
"Haaaa..." aku kanget... "Madsudnya jadi bahan puisi
gimana?"
Ricard pun menjawab "Aku mau buat puisi lagi, tapi kamu sebagai
sumbernya"
"ahh,,.. aku nggak bisa"
"hmm.. udah tenang aja, kamu hanya perlu diam di bangku ini, anggap
aja kamu sedang membaca dan tidak ada yang melihat. Oke"..
"hmmm" Ujarnya dengan kembali sedikit menggangguk.
"Ternyata dia selain tampang romantis juga yah" ucapku didalam
hati sambil memandangnya.
"oii... kenapa malah ngelamun"
Akupun kaget dan merasa malu karna melamun mandangin Ricard. Lalu aku
mengatakan kalau aku tidak apa-apa. Dia pun memulai menulis kata demi kata dan
bait demi baik. Sambil menoleh-noleh memandangku. Itu karna aku jadi bahannya.
Aku pura-pura acuh tak acuh untuk menghilangkan grogiku, dan mulai membaca
serius buku yang sedang aku pegang. Hanya dalam waktu sepuluh menit dia sudah
bisa menciptakan puisi sebanyak empat bait gan baris yang begitu banyak.
"ini puisinya dah jadi" merentangkan tangannya dengan selembar
kertas putih.
"ohh,, ini untukku"
"ia. kamu bacalah"
"Nanti ajalah, saolnya aku lagi baca buku ini" seruku kepadanya,
supaya dia berhenti memandangku, karna aku betul-betul grogi karna dia
terus-terusan melihatku.
"yasuda, aku mau lanjut kerja lagi, aku tinggal yah"
Bagikan
Bintang di Bulan Agustus Capter 3
4/
5
Oleh
Frendi Nduru

