Rabu, 01 Agustus 2018

Bintang di Bulan Agustus Capter 3



"Wahhh, ini indah sekali ricard" ucapku sembari melihat ricard. Ternyata Ricard sudah pergi entah kemana. Aku melihat-lihat kearah rak-rak buku ternyata dia memang benar-benar tidak ada di perpustakaan. Sejak saat itu aku tersenyum-senyum sendiri membaca puisi dari ricard.

Sehabis jam mata kuliah, aku langsung dijemput oleh supirku. "Dila, kamu langsung pulang" Teman sekelasku. "iyah nih .. Rin nanti kita nyari buku yuk, yang di bilang Pak Irman kemarin" jawabku sembari mengajak Rina. Lalu Rina menjawab ajakkanku "Oh,, kayaknya aku nggak bisa deh hari ini, soalnya aku sama doni mau pergi nonton. hehehe Tadinya kamu mau aku ajak". "Yaelah, masa iya aku jaga nyamuk Rin, yaudalah nggak apa-apa kok, biar aku sendiri" ujarku. "Serius yah nggak apa-apa" kata Rina, Lalu aku mengangguk dan tersenyum. "Yauda lah Rin aku balik yah.. Jawab Rina "Oke, hati-hati", "Sip".

Setibanya dirumah aku menyantap sarapan yang dihidangkan oleh mamaku sendiri. Masakan mama itu masakan paling lezat sedunia menurutku, karna siapapun yang makan pasti akan ketagihan. Sehabis makan, aku tidak tidur siang melainkan mandi dan siap-siap untuk pergi ke toko buku kemarin untuk membeli buku.
Seperti biasa aku pergi sendirian naik bis dan turun di halte tepat aku bertemu Ricard si pria penggoda kemarin . Aku meneruskan langkahku untuk pergi ke toko buku. Kemudian aku mencari buku yang ku butuhkan di rak satu ke rak yang lain. "manajemen... mana....jemen" ucapku dengan suara kecil dan membungkuk mencari buku dibawah rak.

Kemudian seseorang memukul pundakku dan berkata "hei". Suara itu tidak asing bagiku, dan dugaanku benar dia adalah si pria penggoda. Aku kaget kemudian bertanya "Kamu ngapain disini", "Aku memang dari tadi disini" ujarnya. "ia tapi kamu mau nyari buku apa disini" Lanjutku. "Nggak, Aku memang kerja disini". "ha....!! Serius???" Aku sedikit kaget.  "Emangnya aku bercanda.. Inih..!!!" Dia menunjukkan IdCard bahwa dia adalah karyawan toko buku ditempat itu. Karna aku yang masih kaget dan bingung kemudian ia menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku "Kamu sendiri mau nyari buku apa??!!!". "Aku nyari buku .hmm ... Manajemen Informatika." jawabku dengan sedikit gugup. "hooo" sautnya. Kemudian aku bertanya kepadanya " Kalau kamu memang karyawan sini, kenapa aku baru liat kamu sekarang", Lalu Ricard menjawab "aku baru masuk kemarin, dan aku melihatmu juga sedang nyari buku. Pas mau aku datangin eh malah sudah pergi". Kemudian aku mengangguk dan sedikit mengingat-ingat kejadian kemarin. "ho, pantas dia menghampiriku kamarin di halte, dia sudah tahu kalau aku Dila".,Ujarku didalam hati. "oh begitu yah.." ucapku.

Kemudian Ricard menunjukan kepadaku letak rak buku yang aku cari yaitu Manajemen Informatika. Kemudian dia pamit karna ada tugas yang hendak ia kerjakan di gudang buku. "aduh aku lupa bertanya arti puisinya kemarin" ujarku memukul kepala karna lupa menanyakan itu kepada Ricard. Setelah aku menemukan buku yang aku cari dari tadi, aku duduk sebentar di bangku pinggir dinding toko buku., untuk membaca-baca isi dari buku tersebut. Hari itu tidak begitu banyak orang yang ke toko buku, biasanya dihari libur saja toko itu akan ramai. Sehingga tidak perlu mengantri untuk mendapatkan tempat duduk. Masih selang beberapa halaman aku membaca, dari sudut pintu yang mengarah ke gudang Ricard berseru "Masih disini del, kirain dah balik"
"iyah, aku masih harus baca beberapa judul buku ini, sesuai nggak sama yang di bilang dosen kami." Jawabku
Lalu Ricard menhampiriku, dia duduk disebelah bangku yang memang khusus untuk dua orang saja. Jarak kami sangat dekat sehingga tiba-tiba aku jadi grogi untuk menanyakan tentang puisinya.
"Gimana tadi puisinya???,, suka??"
"Ia, aku ...suka" Jawabku dengan sedikit mengangguk..
"Baguslah kalau kamu suka, kalau gitu kamu mau dong jadi bahan puisiku" Serunya kepadaku
"Haaaa..." aku kanget... "Madsudnya jadi bahan puisi gimana?"
Ricard pun menjawab "Aku mau buat puisi lagi, tapi kamu sebagai sumbernya"
"ahh,,.. aku nggak bisa"
"hmm.. udah tenang aja, kamu hanya perlu diam di bangku ini, anggap aja kamu sedang membaca dan tidak ada yang melihat. Oke"..
"hmmm" Ujarnya dengan kembali sedikit menggangguk.
"Ternyata dia selain tampang romantis juga yah" ucapku didalam hati sambil memandangnya.
"oii... kenapa malah ngelamun"
Akupun kaget dan merasa malu karna melamun mandangin Ricard. Lalu aku mengatakan kalau aku tidak apa-apa. Dia pun memulai menulis kata demi kata dan bait demi baik. Sambil menoleh-noleh memandangku. Itu karna aku jadi bahannya. Aku pura-pura acuh tak acuh untuk menghilangkan grogiku, dan mulai membaca serius buku yang sedang aku pegang. Hanya dalam waktu sepuluh menit dia sudah bisa menciptakan puisi sebanyak empat bait gan baris yang begitu banyak.
"ini puisinya dah jadi" merentangkan tangannya dengan selembar kertas putih.
"ohh,, ini untukku"
"ia. kamu bacalah"
"Nanti ajalah, saolnya aku lagi baca buku ini" seruku kepadanya, supaya dia berhenti memandangku, karna aku betul-betul grogi karna dia terus-terusan melihatku.
"yasuda, aku mau lanjut kerja lagi, aku tinggal yah"

EPISODE SEBELUMNYA                                                                            EPISODE SELANJUTNYA

Bagikan

Jangan lewatkan

Bintang di Bulan Agustus Capter 3
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.