Minggu, 05 Agustus 2018

PERBEDAAN #2



Akhirnya tibalah probema yang membuat aku berpikir bahwa ini adalah akhir dari segala yang aku takutkan. Akhir dari berakhirnya hubungan kami. Dimana ketika dihari bahagia kami aku dan Nisa, Orang tuaku dan Orang tua Nisa yaitu hari WISUDA. Berubah menjadi seperti hari yang paling menyakitkan dan membunuh jiwaku perlahan. Mungkin itulah yang di rasakan oleh Nisa juga.

Sewaktu sesi foto-foto wisuda di halaman depan aula, aku menemui Nisa dan ingin hendak berfoto dengannya juga.

"hai Nis, selamat yah...." Ucapku kepadanya
"Niel.... " Memelukku dan sambil menangis dan disaksikan oleh orang tua Nisa dan Pria yang tidak pernah aku liat. Ibunya melepaskan pelukan Nisa yang terlalu lama memelukku, begitu juga denganku. Aku pelan-pelan menenangkannya, aku tidak itu tangis haru atas wisuda, atau malah menjadi tangis terakhir yang aku liat di wajahnya.

"Kamu ngapain nangis Nis, inikah hari bahagia kita, Kita sarjana sekarang" Ucapku sembari melihat wajah Nisa yang aku tidak tahu mengapa di penuhi air mata.
"Niel....." Kata nisa lalu di potong oleh ayahnya....
"Nak niel, Ini Bram" kata ayah Nisa sambil menunjuk bram.
Pria yang tak ku kenal itu bernama bram, lalu mengulurkan tanganya kepadaku,
"Bramono, panggil saja Bram"
"Daniel" jawabku dengan tegas.
"Nak Niel, Bram bapak bawak kemari untuk menemani Wisuda Nisa putri Kami" "Bram adalah calon suami Nisa"

Mendengar kata itu, aku merasa ada alunan musik yang membuat aku terdiam dan perlahan menitihkan air mata. Namun aku pura-pura bisa dan tak mau mendengarkan. Aku seperti baru ditusuk oleh jarum yang tipis namun sangat tajam. Jarum itu tiba-tiba datang menusuk kulit hingga tembus ke tulang rusukku. Sama seperti datangnya seorang pria yang bernama bram yang mencoba merebut bidadariku untuk selama-lamanya. Aku pun langsung pergi dari tempat itu, dan memberikan salam ke arah orangtua Nisa. Aku sempat melihat Nisa yang menangis ke arahku di pelukan ibunya. Aku pergi menuju mobil yang dimana orangtuku sudah menunggu. Di hari bahagia itu, tidak ada satupun kenangan bahagai buat aku dan nisa, bahkan foto bersama pun tak sempat. Tidak ada yang bisa dikenang di dalam hubugan ini. Betul-betul aku sudah sangat bingung sekarang. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Apakah harus merebut Nisa kembali atau terus berdiam sampai melihat Nisa menuju plaminan dengan pria yang di jodohkan dengannya.

Sampai pada keesokan harinya, Nisa meneleponku lalu meminta aku untuk menjumpainya disebuah taman kecil tempat sering nongkrong. Nisa memegang tanganku dan mengatakan "Niel, kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkanku apapun itu masalahnya dan hambatannya, jadi kamu jangan pergi dariku". Mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Nisa membuat aku merasa dilema dengan pilihan yang aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan bagaimana.

"Nis, aku memang mencintaimu, tapi tidak selamanya mencintai harus memiliki" Ucapku sembari memeluknya.
"Apa maksudmu Niel, kamu tidak mau memperjuangkan cinta kita" ,menatapku sambil menangis..

Kalau bisa dilihat oleh Nisa, aku lebih manangis didalam hatiku yang paling dalam, namun aku tidak mau terlihat lemah di mata Nisa. Karna dia tahu, aku adalah pria tangguhnya.

"Nis, itulah takdir kita, Mencintai tapi tidak memiliki" seruku kepada Nisa
"Kenapa baru sekarang kamu bilang itu Niel, disaat aku sudah sangat mencintaimu dan menyayangimu. Kamu yang bilang, kalau kamu sangat mengasihiku" Kata Nisa Kepadaku...
"Nisa, Aku sangat mengasihimu, namun percuma kalau kita memperjuangkan hubungan ini terus tanpa restu kedua orang tua kita."

"Oke kalau begitu,Bila kamu memang benar mengasihiku. kamu harus berkorban Niel, Kamu harus ikut denganku.. Dengan agamaku yang sama?"

Medengar kata-kata yang keluar dari bibir Nisa, membuat aku tidak percaya bahwa dia adalah Nisa yang aku kenal selama ini.

"Aku tidak percaya kalau kamu mengatakan itu Nisa, aku mangasihimu, apa adanya. Aku tidak perduli apa agamamu, apa sukumu. tapi jangan kamu jadikan semua cintaku padamu, menjadi alasan aku untuk ikut denganmu. Aku tidak bisa Nisa" Tegasku dengan Nisa.

Nisa pun pergi dan terakhir kali mengatakan "Kamu jahat Niel"....

Karna tidak mau mengalah, sama-sama ingin mempertahankan iman kami,perbedaan agamalah yang menjadi alasan perpisahan hubungan diantara kami. Sejak saat itu Nisa tidak pernah menghubungiku lagi. Bahkan aku saat bertemu dia tidak pernah bertegur sapa. Dia sudah benar-benar berubah dan tidak mau menemuiku lagi. Karna aku tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan, aku memutuskan untuk pergi dari kota itu. Karna ada begitu banyak kenangan indah yang membuat aku selalu terbayang dengan Nisa. Sehingga aku memutuskan pergi melanjutkan S2 ku di luar Negeri. Sampai akhirnya aku menerima email dari Nisa yaitu undangan pernikahannya. Aku bahagia melihat dia sudah bisa menerima pasangan barunya. Aku beryukur kepada Tuhan karna aku pernah dipertemukan kepada Nisa. Meski berending perpisahan, namun aku tetap beryukur bahwa Tuhan punya rencana terbaik untuk Masa Depanku.

                                                              SELESAI

SEBELUMNYA
Baca selengkapnya

PERBEDAAN #1

Namaku Niel, kependekkan dari Daniel. Ayah ibuku mengambil namaku dari Alkitab, yaitu kitab suciku. Aku adalah umat kristiani yang taat kepada Tuhanku yaitu Yesus Kristus. Aku memiliki Kakak perempuan yang bernama Rifka. Dia menikah dengan seorang pendeta yang sangat terkenal di kotanya. Aku adalah anak laki-laki satu-satunya dikeluarga. Karna adiku merupakan seorang wanita juga yang bernama Sara. Ketiga nama kami memang di ambil dalam alkitab dan bisa dibilang kalau kami merupakan keluarga yang taat akan agama.



Tapi.. Itu bukanlah kisahku, namun inilah cerita. Tentang perbedaan diantara aku dan dia.
"Niel, aku solat dulu.. Nanti kita telponan lagi" serunya kepadaku dan mengucapkan salam.

Namanya Nisa, wanita berkerudung dan tidak fanatik. Baik, dan ramah, cantik dan lucu, manis dan soleha, itulah definisi yang cocok untuk nya. Namun aku tidak tahu , Tuhan punya rencana apa dengan hubunganku yang berbeda agama ini. Rasanya aku ingin menangis ketika membayangkan hubungan kami kedapannya. Sudah hampir tiga tahun kami mejalani hubungan tanpa restu dari kedua orang tuaku, maupun orang tua Nisa. Orang tuaku merupakan pelayan hamba Tuhan sedangkan orang tua Nisa adalah Ulama yang tersohor di kota kami. Tidak sedikit orang-orang yang mengetahui hubungan kami, tidak sedikit pula orang-orang mengatakan bahwa hubungan perbedaan agama tidak akan bertahan lama. Tapi kami bisa membuktikan itu sampai sekarang. Sampai dimana aku dan Nisa bisa memahami satu sama yang lain. Kami tidak pernah peduli apa kata orang mengenai hubungan perbedaan agama ini, bahkan orang tua kami yang mengatakan bahwa tidak ada restu bagi kami yang tidak mengijikan perkawinan dua agama berbeda.

Aku bertemu Nisa di kampusku ketika masih semester empat. Waktu itu, dia sekelasku. Jadi kami sering melakukan pekerjaan kelompok. Aku suka mengusilin dia, bahkan pernah membuatnya sampai menangis. Dia wanita yang terlalu baik menurutku sehingga aku jera untuk membuat merasa di teror dengan kejailanku. Sehingga waktu itu dia malah merindukan kejailanku itu. Aku merasa agak aneh dan lucu juga. Karna Nisa memintaku untuk melanjutkan menjailinya. Dia kira aku marah kepadanya karna sudah memutuskan untuk tidak menjailinya lagi, Dan itu sangatlah lucu. Dari situlah aku pertama kali jatuh cinta kepada Nisa dan begitu juga dengan dia. Akhirnya kami pacaran sampai kami membuat perjanjian untuk wisuda sama-sama dan menikah ketika sudah memiliki karir masing-masing.

Terkadang aku merenung, mengapa harus berbeda-beda, toh hanya Tuhan hanya satu. Mengapa harus dilarang, kalau Kita sama-sama mengimani Agama kita masing-masing.

"Niel, malam minggu nanti kamu ke gereja?" Tanya Nisa kepadaku.
"Iyah, aku harus muda-mudi Nis, kamu mau ikut".. Seruku sambil menjawab
"Oke, aku seperti biasa yah, nunggu di luar. hehe" Jawabnya dengan senyum yang indah...

Begitulah kami setiap harinya, Dia menunggu aku diluar gereja, dan aku juga kadang mengantarkan ia solat di Mesjid. Sampai-sampai kami seperti memiliki dua agama di mata orang, padahal tidak. Namun anggapan itu tidak menjadi permasalah untuk kami terus melakukan hal seperti itu, Aku tetap mau mengantarkan Nisa ke mesjid, dan dia mau menemaniku Ibadah malam minggu di Rumah bapa di sorga. Hampir setiap malam minggu kami ada di Gereja, dan malam berikutnya kami di Mesjid. Aku tidak tahu itu dosa atau tidak, yang jelas kami tidak melakukan hal-hal yang terlarang yang sudah tertulis di kitab suci kami masing-masing, kecuali soal hubungan pacaran kami.

"Nisa, Kamu bosan dengan hubungan kita??"
"Nggak kok, kenapa kamu tiba-tiba menyakan itu?" jawab Nisa sambil memberikan pertanyaan
" Tidak, aku hanya takut kehilanganmu saja"
"hmmm,, kamu ...." Nisa sambil tersenyumm

Aku tahu, bahwa Nisa sudah banyak menanggung tekanan dari keluarganya, itu sudah tampak jelas dengannya nada bicaranya yang sudah tidak seperti Nisa yang aku kenal. Aku memang sangat takut, bila Nisa tidak menjadi milikiku. Karna aku mencintainya lebih dari cinta Nisa kepadaku.

"Niel, Aku sangat mencintaimu..." Kata nisa kepadaku...
"Aku juga Nis, aku tidak ingin pisah darimu "...
"Janji yah Niel, apapun  yang terjadi kamu tidak akan meninggalkanku??"
"Aku janji Nis..." sambil tersenyum untuk membuat Nisa percaya denganku.

Aku tahu maksud dari pernyataan Nisa yang mengatakan itu, Aku tahu akan ada masalah besar yang membuat aku akan melepaskannya. Aku sudah tahu bahwa masa itu akan tiba, persoalan yang tidak tahu bagaiamana aku harus melakukannya. Bagaimana aku harus tegas menjalani hidup ketika harus melepaskan Nisa. Dan permasalahan yang aku takutkanpun tiba.

                                                                                                                          SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Rabu, 01 Agustus 2018

Bintang di Bulan Agustus Chapter 10



Mendengar itu , Ricard menjadi percaya kepadaku, kami pun makan di warung sebelum aku kembali ke rumah dan dia pergi ke tempat kerjanya.
`
Belum penuh satu bulan aku mengenal Ricard sudah sejauh ini. Aku sudah tahu bagaimana karakternya, sudah mengenal siapa ibunya yang sangat baik. Dia juga sudah mendapatkan banyak penghargaan dari hasil dia berpuisi di acara-acara daerah maupun nasional. Bagiku Ricard merupakan Bintang berharga yang di kirimkan Tuhan untuk menemani diriku menjadi penuh warna warni. Di mengajarkan aku tentang bagaimana beryukur dalam menjalani hidup yang sederhana. Dia merupakan pria tampan dari sejuta orang yang sangat menghargai perasaan wanita dengan penuh perasaan dan kelemah lembutan. Satu lagi tentang keluguannya adalah tentang mengungkapkan perasaannya. Dia orangnya tidak terlalu banyak tingkah tetapi pasti.
Dan akhirnya tiba malam terakhir di bulan agustus. Malam terakhir ini pula yang menjadi malam puncak dari kebahagianku selama bulan agustus. Malam yang penuh dengan ekspresi keceriaan. Malam yang menjawab semua pertanyaanku dan harapanku. Karna Ricard mengirimku puisi dengan suaranya.

Aku tahu,
Bintang akan jarang menemani malam
setelah ini
Karna Bulan akan lebih sering di tutupi oleh
pekatnya awan malam
Aku tahu, bulan
akan kesunyian
sama sepeti bintang yang sepi
ketika bulan berhianat
Tapi Aku tidak Tahu,
Kalau bulanku akan pergi menginggalkanku
Ketika bintang yang selalu ada disampingnya
Mengatakan
Bahwa Aku sungguh mencintaimu
Bintang sudah jatuh hati kepada bulan
Dan bintang masih ragu
Apakah bulan juga mencintai bintang..

Itulah puisi dari Ricard yang membuat aku sangat salah tingkah. Aku tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaannya. Yang jelas aku sangat senang dia akhirnya jujur dengan persaannya. Karna apa yang ia rasakan adalah sama dengan yang aku rasakan juga. Bintangku akan selalu aku genggam dan tidak aku biarkan untuk pergi. Karna aku tidak mau kehilangan bintang yang begitu indah didalam hidupku.

SELESAI

EPISODE SEBELUMNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Chapter 9



Dia juga mengatakan, kalau hanya aku sejauh ini yang bisa bertahan berteman dengan Ricard setelah mengenalnya lebih dalam. Menurutku sih tidak ada yang salah, selagi ia merupakan orang yang baik-baik ngapain mesti di jauhi. Justru aku sangat senang bisa kenal dengannya. Karna aku selalu menjadi pembaca setia setiap puisinya.

Tidak terasa bulan agustus tinggal satu minggu lagi, aku dan Ricard sudah semakin dekat. Bahkan dia pernah menyebutkan aku sebagai kata sayang didalam puisinya. Entah itu adalah kode atau sebagai hiasan kata elok di puisinya saja. Dia selalu mengucapkan selamat tidur kepadaku ketika malam mulai larut, dan juga selamat pagi ketika pagi. Aku tahu mengapa dia bisa cepat bangun saat pagi, karna dia gejain tugas dari subuh. Karna aku pernah menanyakan hal itu soalnya kepada dia. Tapi sejauh ini, Ricard tak pernah mengajakku untuk pergi kerumahnya. Entah karna ia malu atau tidak. Padahal aku ingin bertemu ayahnya. Sesekali aku mengajak dia untuk mengerjakan tugas dirumahnya, namun dia tetap menolak "Entar aja" itu selalu jawaban yang keluar dari bibirinya.
"besok pulang kuliah, aku ngikutin dia ajalah, biar aku tahu dimana rumahnya" Ucapku didalam hati. Keesokan harinya setelah matakuliah selesai, aku langsung bergegas melihat Ricard yang sudah berjalan kaki deluan dari arah pagar. Aku sempat berpikir rumahnya dekat dari kampus karna ia hanya berjalan kaki. Aku mengikutinya dari belakang dengan berjalan kaki juga. Ternyata jarak dari rumahnya ke kampus itu satu kilometer. Bagiku itu sangat jauh dan melelahkan. Tapi pada akhirnya aku akhirnya menemukan rumah Ricard yang sederhana. Kemudian setelah dia masuk, aku pun memhampiri rumahnya dan mengetuk pintu.
"Ricard" ucapku sambil mengetuk pintu. Karna dia baru saja masuk rumah, dia cepat untuk membuka pintu.
"Dila.. Kamu kok disini" Seru Ricard yang kaget melihatku tahu kondisi rumahnya.
"aku mengikutimu tadi dari belakang, sorry yah"
"hmmm, yasuda"
"siapa itu card" Ucap suara orang tua dari dalam rumah Ricard.
"temanku buk"
Ternyata suara orang tua itu adalah ibu Ricard. Ibu ricard bekerja sebagai penjahit dirumahnya sendiri.
"bawa masuklah" kata ibu Ricard dengan suara sedikit Renta.
"Iyah bu" lanjut Ricard " Masuklah Dil"
Kemudian aku masuk dan duduk di kursi kecil yang sama dengan kursi jahit ibunya Ricard. Ternyata ibunya sangat hebat dalam menjadi kebaya wanita. Di atas lemari kayu tepat di ruang tamu sebelah ibu Ricard menjahit ada beberapa trofi dan piagam penghargaan.
" trofi itu siapa buk" ucapku kepada ibu Ricard yang karna Ricard sedang di kamarnya untuk tukar baju.
"itu semua trofinya Ricard" jawab ibu Ricard.
Lantas aku berpikir alasan mengapa Ricard masuk jurusan sastra. Ternyata dia memang benar-benar ingin menjadi seorang penyair. Hanya sebentar aku ngobrol dengan Ibunya, Ricard sudah keluar dari kabar dengan seragam kerjanya.
"buk aku berangkat kerja yah" Pamit Ricard
"Kamu nggak makan dulu, Lagian Teman kamu belum makan"
"Nggak usahlah bu, nanti bisa makan di warung"
Kemudian Ricard mengajakku untuk bergegas pergi dari rumahnya menuju tempat kerjanya. Ia pamit begitu juga dengan aku.
"Bagaimana setelah kamu tahu rumah ku dil, apa kamu masih mau temanan denganku" tanya Ricard kepadaku.
"Card, berarti selama ini kamu menghalang-halangiku datang kerumahmu karna itu toh" Aku balas dengan senyum
"hmmm"
"Aku tulus temanan denganmu Card, karna kamulah yang sudah membuat bulan menjadi lebih indah sejak kehadirat bintang."

Mendengar itu , Ricard menjadi percaya kepadaku, kami pun makan di warung sebelum aku kembali ke rumah dan dia pergi ke tempat kerjanya. 

EPISODE SEBELUMNYA                                                                           EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Chapter 8



Ternyata dia balik ketampanannya yang suka senyum, Ricard menanggung banyak beban dalam hidupnya.

"Aku mulai suka buat puisi sejak ayahku meninggal. Hatiku tentu sangat terpukul, karna aku yang masih usia remaja saat itu bingung harus bagaimana menjalani hidupku tanpa pemimpin di keluargaku. Aku tidak bisa berdiam diri begitu saja. Lalu aku sering menuangkan kesedihanku di dalam sebuah puisi Dil. Dan aku sangat suka melakukan hal itu karna bisa sedikit melepas semua masalahku".
"Akupun bekerja untuk membiayai uang kuliahku, soalnya kalau hanya mengharapkan penghasilan dari ibuku, aku tidak akan bisa kuliah sampai sekarang."
"kamu hebat yah card" seruku untuk memotivasinya. Karna aku sudah mulai melihat kesedihan yang ada dimata Ricard, aku menyuruhnya untuk membuat puisi. Dia sangat semangat dan kembali tersenyum, padahal banyak penderitaan dibalik senyumnya itu.
Kemudian Ricard mengambil pena dan selembar kertas untuk di tulisnya rangkaian kata-kata indah yaitu puisi. Ia menyuruhku melihat bintang yang pada saat malam itu sangat banyak dan terang. Kesedihannya beransur-ansur pulih menjadi tawa yang lepas. Aku merasa bersalah karna malam itu aku mengingatkannya kepada masalalunya. Di sela-sela dia menulis, aku menganyakan soal chatnya kemarin, untuk memastikan apakah itu benar dia. "ini chat dari kamu yah" sambil memperlihatkan layar handphoneku ke arah Ricard. "iyah, kenapa nggak kamu balas?" pertanyaan kepadaku.
"Aku nggak bisa balas chat orang sembarangan, apa lagi ini nomor baru. Makanya nggak aku balas" .
"oh" jawab Ricard tanpa memperhatikanku karna ia sedang asyik menulis puisinya. Lalu aku menambahkan nomor Ricard di kontakku dan kembali aku perlihatkan layar handphoneku padanya.
"ha.. kok bintangku" Jawab Ricard sambil tersenyum.
Lalu aku menjawab " Aku kan bulanmu, karna kamu bilang kamu adalah bintang, maka aku buat nama kamu menjadi Bintangku"
"hehehe,, " tawanya yang singkat.

Aku berhasil membuat dia semakin terhibur  malam itu. Dan selesai ia membuat puisi, dia memberikan kertas putih berisi syair indahnya itu kepadaku. Lalu aku menolaknya, karna aku ingin dia yang membacakan puisi itu kepadaku. Ternyata, puisinya lebih keren ketika dia yang membacakannya. Nada-nada yang turun naik dan juga suara yang keras dan lembut menyatu menjadi sebuah irama yang bagus untuk sebuah puisi. Mulai malam itu, aku sudah tahu siapa Ricard sebenarnya.

Sejak saat itu pula kami mulai dekat. Hampir setiap hari aku menemani Ricard di toko buku sehabis pulang kuliah. Dia selalu memberikan aku penggalan-penggalan puisi yang indah. Dia juga pernah datang kerumahku untuk mengantarkanku sehabis selesai kerja. Ibuku dan adiku Vino sangat menerimanya. Tiap hari juga, aku membantunya untuk mengerjakan tugas kuliahnya, bukan karna itu aku jadi babu nya, justru karna aku memang niat untuk membantunya. Lagian dia tidak pernah menyuruhku untuk mengerjakan tugasnya, dia selalu melarangku untuk tidak melakukan apapun tentang tugas-tugasnya di kampus. Karna aku tahu dia lelah yah mau tak mau aku harus melakukannya. Aku tahu seberapa besar beban dan tanggung jawab Ricard terhadap ibunya dan untuk masa depannya. Untuk itu tidak salah bila aku bisa sedikit menjadi orang yang memotivasinya mengejar impiannya. 


Kata Ricard hidupnya sangat kesepian dan tidak mau bergaul dengan orang lain sejak kepergian ayahnya untuk selama-lamanya. Dia lebih suka menyendiri dan diam dirumah. Rumahnya adalah tempat dimana dia menciptakan puisi-puisi yang elok. Aku tahu juga siapa saja yang pernah dekat kepada Ricard, tapi setelah tahu latar belakang keluarga Ricard semua wanita-wanita yang dekat samanya pasti akan hilang atau tidak mau bergaul lagi. Itu sebabnya Ricard tidak pernah pacaran dengan siapapun. Padahal dia tampan dan baik. Dia juga mengatakan, kalau hanya aku sejauh ini yang bisa bertahan berteman dengan Ricard setelah mengenalnya lebih dalam. Menurutku sih tidak ada yang salah, selagi ia merupakan orang yang baik-baik ngapain mesti di jauhi. Justru aku sangat senang bisa kenal dengannya. Karna aku selalu menjadi pembaca setia setiap puisinya.

EPISODE SEBELUMNYA                                                                       EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Chapter 7



Kami menikmati film action malam itu, sampai-sampai adikku Vino Sudah tertidur di bangku sofa, mama mengangkatnya ke dalam kamar Vino. Karna melihat adik yang sudah di antar ke kamar, aku masuk ke kamar juga. Lagian malam sudah mulai larut.

Kring... kring.... kring... (Suara Alarm)
Alarmku pun berbunyi menandakan bahwa mentari sudah mulai kelihatan. Aku bergagas untuk merapikan tempat tidurku yang sedikit berantakan. Kemudia mengambil handuk menuju kamar mandi. Setelah selesai semua aku menuju meja makan dimana ada sehelai roti yang aku bawa ke dalam mobil untuk dimakan. Aku berangkat ke kampus seperti biasa di antar oleh pak supir. Setibanya ke kampus aku langsung menuju kelasku. Belum tiba di kelas, Rina sudah memanggilku dari arah perpustakaan.
"Dila, dila... sini." mengajakku masuk ke ruang perpustakaan. "Kenapa Rin??!!" seruku karna penasaran. "Kamu dah siap tugas Manajemen??", "hahhha. kamu mau nyontek yah" tawaku ingin mengejek Rina. "issshh, jangan keras-keras dong, malu kalau di dengar orang" jawabnya dengan sedikit kesal. "yauda, nah.. jangan di salin semua yah, pakai bahasa sendiri juga", "oke" jawabnya dengan simpel. Waktu masih ada setengah jam lagi untuk Rina mengerjakan tugas yang ia salin dari tugasku. Sembari menunggunya mengerjakan tugas, aku mencari buku di rak-rak untuk dibaca. Karna sayang waktu akan sia-sai bila hanya di habiskan dengan percuma dan tidak ada arti. Setidaknya bisa baca sepuluh atau duapuluh halamankan sudah lumayan. Masih lima menit berlalu, Ricard masuk ke dalam ruang perpustakaan, dan aku menyapanya ketika dia melihatku. "heiii" sahutku kepadanya, dia juga membalas sapa yang sama. "Kamu tiap hari meliha buku tidak bosan yah" seruku pada Ricard. "Nggak dong, aku boleh gabung" katanya, "tentu.
Diapun duduk disebelahku sambil cerita mengenai buku. Rina yang asyik menyalin tugasku tidak memperhatikan kami berdua, cuman dia sempat aku lihat menoleh ke arah Ricard sebentar. "Rin, dah sampai mana??!!" , "bentar lagi kok dil". Kemudian aku mengajak Ricard untuk ngobrol soal kecintaannya kepada buku. Ternyata dia hanya suka membaca buku puisi saja. Pantas Ricard pandai merangkai puisi yang begitu indah, pengetahuannya tentang kata-kata yang bagus pasti sudah memenuhi otaknya. Tapi aku bingung, mengapa dia harus bekerja di toko buku itu. Ingin aku tanyakan tapi aku takut pertanyaan itu terlalu mengurusi pribadinya. Padahal ingin tahu lebih dalam tentangnya pria tampan yang jago membuat syair yang elok.
"Dil, kamu nanti siang ke toko buku lagi?" Tanya Ricard kepadaku, "hmmm,, kayaknya hari ini enggak deh.", " ohh, gitu yah". "yauda dil, aku tinggal dulu yah, soalnya aku mau cari buku untuk mata kuliah hari ini", "oh yauda".
Aku melihat dia memilah-milah buku yang ia cari. Entah mengapa aku sangat nyaman memandangnya, terasa dia memang betul-betul adalah bintang yang bercahaya bila ada bulan. Dia sangat Romantis, tapi mengapa dia tidak membahas soal chat yang tadi malam yah, atau karna aku hanya Read chatnya saja. Mungkin dia lupa.

"Dil, ayok ke kelas" ucap wanita yang sedang bersamaku yaitu Rina. "ohh. iyah ayoklah".
Rasanya aku ingin berlama-lama memandang Ricard di ruang perpus itu, tapi aku harus benar-benar masuk kelas, karna mata kuliah sedikit lagi akan dimulai. Kami pun bergegas meninggalkan perputakaan yang hanya ada beberapa orang saja didalamnya. Aku tidak sempat melihat Ricard. Kami memulai mata kuliah hari ini sampai jam pulang. Sangat lelah karna jam kuliah yang benar-benar padat satu harian penuh. Waktu aku tiba dirumah aku langsung tertidur pulas sampai petang. Kemudian aku Mandi dan menukar baju lalu makan malam. Karna jarum jam menunjukan masih pukul setengah delapan, aku terpikirkan soal pertanyaan Ricard mengenai aku ke toko buku hari ini tau tidak. Aku berpikir mungkin ada sesuatu yang mau ia katakan. Lalu aku memutuskan untuk pergi sendirian.
"Ricard, kamu masih kerja" ucapku, "Ia Dil, aku selesai sampai jam sebelas malam nanti". Sontak aku agak bingung dan salut, bingung karna kapan dia ada waktu untuk mengerjakan tugas bila dia tiap hari harus bekerja. Lalu salut karna dia pria yang mandiri. Karna kondisi toko yang lumayan sepi, Ricard punya banyak waktu untuk ngobrol denganku.

"Dil, tadi kamu bilang tidak kemari", "ia itukan kamu nanyaknya siang, aku kan datangnya malam". "hahaha, kamu bisa aja ngeles. Kamipun berbincang-bincang mengenai toko buku tempat ia kerja, tentang mengapa ia suka berpuisi dan mengapa ia harus kerja. Mendengar ceritanya hatiku bercampur aduk, ada sedih, haru dan termotivasi. Ternyata dia balik ketampanannya yang suka senyum, Ricard menanggung banyak beban dalam hidupnya. 


EPISODE SEBELUMNYA                                                                            EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya

Bintang di Bulan Agustus Chapter 6




Apakah bintang itu memang lagi betul-betul kesepian dan bulan tidak pernah mengerti persaan si bintang yang sebenarnya.

Karna aku sedikit kesal kepada Ricard yang tidak sempat mejawab pertanyaanku, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Namun rasa kekesalanku padanya tidak bertahan lama, karna aku juga harus mengerti, bahwa tadi itu dia baru aja sampai di tempat kerja. Tidak seharusnya aku memperlakukannya begitu. Setibanya dirumah, seperti biasa aku langsung masuk ke dalam kamar, mengambil buku untuk mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan minggu depan. Aku memang rajin mengerjakan tugas kampus, karna aku tidak mau merasa terbebani disaat tugas-tugasku menumpuk. Jadi, apa salahnya aku memanfaatkan waktu luangku untuk mengerjakan tugas tersebut. Selesai mengerjakan tugas, aku mengisi buku diaryku tentang perjalanan hari ini. Dimana hari ini tidak ada kesan yang membuatku bahagia. Padahal sebenarnya aku berharap diberikan puisi oleh pria penggoda itu di toko buku tadi. Aku merasa terlalu berharap dan kebanyakan menghayal. Pemikiranku saat itu memang betul-betul buyar dan sedikit pusing. Dan akhirnya aku tertidur siang itu di tempat tidur.
Setalah aku bangun kira-kira pukul empat sore aku mandi untuk mendinginkan pikiranku dan menyegarkan semua tubuhku alias biar wangi. Setelah mandi aku melihat ada chat kontak dari nomor baru. Dan chat itu adalah sepenggalan puisi yang isinya.

Bintang itu adalah aku
yang menantikan bulan
kembali menyinari hidupku

Kemudian aku melihat foto profil si pengirim, ternyata hanya gambar bintang. Lalu aku mulai mengerti dan tahu apa maksud dan tujuan dari chat barusan. Itu adalah jawaban dari pertanyaanku kepada si pria penggoda tadi siang.
"waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" Teriakku yang spontan dan keras membuat ibuku terdengar.
"Dila kamu kenapa"  ucap ibuku yang sedikit panik dari luar kamarku. "tidak apa-apa kok mah, hanya nonton film aja tadi" sahutku. "oh yasudah kalau tidak apa-apa" mamapun pergi meninggalkan kamarku.
Aku benar-benar bahagia saat itu, tapi tidak tahu kenapa. Yang jelas chat itu seperti menghilangkan semua masalah yang ada di benakku selama beberapa hari ini. Sontak wajahku yang agak sedikit murung saat itu langsung ceria kembali, buku diary yang sudah aku tulis tadi berending kebahagiaan. Lalu aku keluar dari pintu kamar karna ini  sudah benar-benar jam makan malam. Aku menuju meja makan yang dimana hanya aku dan adikku Vino yang sudah duduk. Ayahku masih belum pulang kerja, sedangkan ibu baru selesai mandi.
"Ma..." teriakku dari meja makan
"Iyah, makan deluan saja Dil," sahut mamaku dari dalam kamar.

Akupun makan bersama adikku di meja yang sama. Setelah selesai makan, kami nonton di ruang tamu bersama. Dan ditengah film sedang mulai, akhirnya ayah pulang kerja. Ayah langsung pergi ke kamar tanpa melihat kami yang sedang duduk diruang tamu. Hanya ibu yang berbicara dengan ayah saat itu, karna ibu yang menjemput ayah di depan pintu. Aku ngerti situasi seperti itu, pasti ayah sudah sangat kelelahan. Tapi Apakah adikku Vino mengerti itu, dia pasti sangat membutuhkan kasih sayang dari ayah. Apalagi jiwa Vino yang masih remaja yang tergolong masih labil, aku sedikit takut bila kurangnya kasing sayang kedua orang tua dapat menjerumuskan Vino ke hal-hal yang negatif. Tapi aku yakin adikku tidak seperti itu, toh masih ada mama yang selalu perhatian dengan aku dan Vino. Kami menikmati film action malam itu, sampai-sampai adikku Vino Sudah tertidur di bangku sofa, mama mengangkatnya ke dalam kamar Vino. Karna melihat adik yang sudah di antar ke kamar, aku masuk ke kamar juga. Lagian malam sudah mulai larut. 

EPISODE SEBELUMNYA                                                                           EPISODE SELANJUTNYA
Baca selengkapnya