"Nanti ajalah, soalnya aku lagi baca buku
ini" seruku kepadanya, supaya dia berhenti memandangku, karna aku
betul-betul grogi karna dia terus-terusan melihatku.
"yasuda, aku mau lanjut kerja lagi, aku tinggal yah"
Kemudian aku mengangguk, dan melihat dia mulai masuk ke pintu lagi. Tidak
terasa sudalah lewat satu jam aku di toko buku itu, kemudian kembali tanpa
pamit pada Ricard. Karna dia memang tidak terlihat setelah itu. Aku balik dan
menunggu di halte bis. Aku penasaran melihat puisi yang t'lah dibuatnya untukku
tadi. Pelan-pelan aku membuka puisi itu, dan membacanya baris-perbaris, belum
sampai satu bait bis ku sudah datang. Karna aku berdiri, jadi aku memutuskan
untuk membaca puisinya dirumahku saja. Dalam perjalanan aku selalu terbayang
dengan tatapannya yang begitu manis terhadapku. Aku sebenarnya grogi bukan
karna takut ia terus melihatku, tetapi karna terlalu romantis bagiku.
Kalau seperti ini, aku jadi ingat mantan pacarku yang selalu membuatkan aku
lagu. Mantanku namanya Aris, laki-laki semester enam yang lebih tua satu tahun
dariku. Aris merupakan ketua Bem di kampus. Aku bisa kenal denganya ketika kami
lagi di ospek sama anggota BEM. Tiba-tiba Aris melihatku dan mengajak aku
kenalan. Karna aku masih junior waktu itu, sangat malu rasanya bila kenalan
langsung dengan ketua BEM. Makanya aku menolak untuk berkenalan denganya. Tapi
entah mengapa dia malah menjadi ngejar-ngejar aku. Padalah aku kira dia sangat
marah waktu itu. Setalah aku tanya, dia ternyata suka dengan wanita yang tidak
murahan seperti aku katanya. Hanya jalan satu bulan aku langsung jadian sama
Aris, dia sangat berbakat dalam bernyanyi dan bermain alat musik. Dan karna itu
pula, aku mengakhiri hubungan kami. Karna menurutku dia terlalu sempurna
bagiku. Dia adalah seorang ketua BEM kampus yang banyak di sukai wanita lain.
Hanya satu bulan usia hubungan kami sebagai status pacaran harus kandas karna
para wanita yang mengejar-ngejar Aris. Aku cemburu, dan biar cemburu dan
sedih-sedihnya tidak berkepanjangan. Aku mengambil tindakan langsung untuk
mengatakan "Aris kita Putus". Aku mutusin dia didepan selingkuhannya
di raung BEM. Dia tak mengejar waktu aku pergi dan aku sangat sakit hati. Tapi
sakit hatiku hanya hilang satu malam saja, karna hubungan kami masih seumur
tanaman kangkung. Jadi, cintaku samanya itu masih hanya sehelai daun kelor.
Akhirnya aku sampai dirumah, pak supir yang kebetulan disitu membukankan
pintu untukku. Aku masuk ke rumah dan langsung ke kamarku. Aku meletakan tas
dan kertas yang aku pegang ditas meja kecilku. Aku langsung membuka pakaian
untuk mandi. Selesai aku mandi aku langsung mengenakan pakaian gantiku dan
ketika aku menyisir rambut dicermin. Tiba-tiba aku terpikirkan lagi sama
pandangan Ricard yang membuatkan aku puisi. Lalu aku mengambil puisi yang tidak
sempat aku baca tadi, kemudian aku baca ulang supaya aku bisa mengerti
maknanya.
Bagaimana bulan bisa
kelihatan
siang hari begini
Apakah bulan sudah bosan
Untuk menemani bintang di
malam hari
Bagimana bulan seindah ini
di siang hari
Apa karna dia sedang meminta
tambahan cahaya dari
matahari
Bagaimana bulan itu bisa terseyum
padahal bintang tidak ada bersamanya
Apakah mungkin dia sudah lupa
Dengan bintang yang menghiasinya
setiap malam
EPISODE SEBELUMNYA EPISODE SELANJUTNYA
Bagikan
Bintang di Bulan Agustus Chapter 4
4/
5
Oleh
Frendi Nduru

