Rabu, 01 Agustus 2018

Bintang di Bulan Agustus Chapter 4



"Nanti ajalah, soalnya aku lagi baca buku ini" seruku kepadanya, supaya dia berhenti memandangku, karna aku betul-betul grogi karna dia terus-terusan melihatku.
"yasuda, aku mau lanjut kerja lagi, aku tinggal yah"

Kemudian aku mengangguk, dan melihat dia mulai masuk ke pintu lagi. Tidak terasa sudalah lewat satu jam aku di toko buku itu, kemudian kembali tanpa pamit pada Ricard. Karna dia memang tidak terlihat setelah itu. Aku balik dan menunggu di halte bis. Aku penasaran melihat puisi yang t'lah dibuatnya untukku tadi. Pelan-pelan aku membuka puisi itu, dan membacanya baris-perbaris, belum sampai satu bait bis ku sudah datang. Karna aku berdiri, jadi aku memutuskan untuk membaca puisinya dirumahku saja. Dalam perjalanan aku selalu terbayang dengan tatapannya yang begitu manis terhadapku. Aku sebenarnya grogi bukan karna takut ia terus melihatku, tetapi karna terlalu romantis bagiku.

Kalau seperti ini, aku jadi ingat mantan pacarku yang selalu membuatkan aku lagu. Mantanku namanya Aris, laki-laki semester enam yang lebih tua satu tahun dariku. Aris merupakan ketua Bem di kampus. Aku bisa kenal denganya ketika kami lagi di ospek sama anggota BEM. Tiba-tiba Aris melihatku dan mengajak aku kenalan. Karna aku masih junior waktu itu, sangat malu rasanya bila kenalan langsung dengan ketua BEM. Makanya aku menolak untuk berkenalan denganya. Tapi entah mengapa dia malah menjadi ngejar-ngejar aku. Padalah aku kira dia sangat marah waktu itu. Setalah aku tanya, dia ternyata suka dengan wanita yang tidak murahan seperti aku katanya. Hanya jalan satu bulan aku langsung jadian sama Aris, dia sangat berbakat dalam bernyanyi dan bermain alat musik. Dan karna itu pula, aku mengakhiri hubungan kami. Karna menurutku dia terlalu sempurna bagiku. Dia adalah seorang ketua BEM kampus yang banyak di sukai wanita lain. Hanya satu bulan usia hubungan kami sebagai status pacaran harus kandas karna para wanita yang mengejar-ngejar Aris. Aku cemburu, dan biar cemburu dan sedih-sedihnya tidak berkepanjangan. Aku mengambil tindakan langsung untuk mengatakan "Aris kita Putus". Aku mutusin dia didepan selingkuhannya di raung BEM. Dia tak mengejar waktu aku pergi dan aku sangat sakit hati. Tapi sakit hatiku hanya hilang satu malam saja, karna hubungan kami masih seumur tanaman kangkung. Jadi, cintaku samanya itu masih hanya sehelai daun kelor.

Akhirnya aku sampai dirumah, pak supir yang kebetulan disitu membukankan pintu untukku. Aku masuk ke rumah dan langsung ke kamarku. Aku meletakan tas dan kertas yang aku pegang ditas meja kecilku. Aku langsung membuka pakaian untuk mandi. Selesai aku mandi aku langsung mengenakan pakaian gantiku dan ketika aku menyisir rambut dicermin. Tiba-tiba aku terpikirkan lagi sama pandangan Ricard yang membuatkan aku puisi. Lalu aku mengambil puisi yang tidak sempat aku baca tadi, kemudian aku baca ulang supaya aku bisa mengerti maknanya.

Bagaimana bulan bisa kelihatan
siang hari begini
Apakah bulan sudah bosan
Untuk menemani bintang di malam hari
Bagimana bulan seindah ini di siang hari
Apa karna dia sedang meminta
tambahan cahaya dari matahari
Bagaimana bulan itu bisa terseyum
padahal bintang tidak ada bersamanya
Apakah mungkin dia sudah lupa
Dengan bintang yang menghiasinya
setiap malam

Itulah beberapa penggalan puisi yang dia buat. Kalau dipikir-pikir puisinya sangat sedih, karna bulan meninggalkan bintang. Kalau di pikir-pikir lagi, siapa sebenarnya bintang yang membutuhkan cahaya dari bulan tersebut??!!


EPISODE SEBELUMNYA                                                                                                                             EPISODE SELANJUTNYA

Bagikan

Jangan lewatkan

Bintang di Bulan Agustus Chapter 4
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.